Jasa Perantara

Seorang murid SD ditanya oleh Gurunya: “Kepada siapa kamu sampaikan keluhan dan kesulitanmu?” Anak itu spontan menjawab: “Kepada Ayah dan Ibu.” Guru itu melanjutkan, “Kepada siapa Ayah dan Ibumu sampaikan keluhan dan kesulitan?” Anak itu spontan menjawab: “Kepada Yesus.” Guru masih terus bertanya: “Mengapa kamu tidak sampaikan langsung kepada Yesus?” Anak itu dengan semangat menjawab: “Karena saya tidak melihat langsung Yesus.”

Meski tidak melihat Yesus dengan langsung, ia melihatnya dalam diri kedua orangtuanya. Keluhan dan kesulitan yang disampaikan kepada Ayah dan Ibunya itu diteruskan kepada Yesus.

Kita perlu melalui orang lain supaya bisa mengenal Tuhan, baru kita bisa datang kepada-Nya. Orangtua mengajarkan kita beriman yang benar. Orang dewasa lain mengajarkan cara berdoa dan bersyukur. Teman mengajarkan, bagaimana membaca Kitab Suci dengan baik. Guru menerangkan tentang tata liturgi yang benar untuk diikuti.

Ada perantara yang berperan untuk datangnya rahmat Tuhan kepada kita. Pengalaman jadi perantara itu dibuat oleh para Rasul, terutama Simon Petrus, sehingga Ibu mertuanya dapat disembuhkan oleh Tuhan. Masih ada banyak contoh lain tentang peran perantara yang membantu dan melayani. Paulus menyatakan dirinya sebagai perantara, demikian juga Apolos dan pribadi-pribadi lain, yang bekerja untuk satu tujuan ialah membuat semua orang tahu, mengerti, mengenal, dan mengikuti Kristus.

Tugas perantara itu menjadi sangat menantang, ketika pribadi berkarakter tegas seperti Paulus itu mau agar orang lain yang ingin mengenal Tuhan harus memiliki satu standar disiplin yang dipatuhi. Tugas ini mungkin yang paling sulit bagi para orangtua, Guru, Katekis, pejabat publik, pimpinan dan bahkan sahabat. Mereka dapat jadi perantara kuasa dan rahmat Tuhan, ketika menghadapi orang-orang di sekitar mereka atau yang berada di bawah tanggung jawabnya. Mereka diuji kemampuannya, jika murid-murid, anak-anak, teman, atau saudara tidak begitu lancar dan mudah menerima.

Tidak semua orang seperti Ibu mertua Petrus yang menerima dengan tenang, lalu bersemangat melayani Yesus. Justru ada banyak orang yang keras kepala seperti para pendengar Paulus. Mungkin jauh lebih banyak itu yang mendapatkan kebaikan, tapi tidak menyampaikan terima kasih. Masih banyak juga yang berkata ‘ya’ tentang imannya, tapi tidak dapat mewujudkan di dalam praktek hidupnya. Justru itulah Yesus mengatakan, kalau kepada mereka itu Ia diutus, lalu Anda dan saya tetap jadi perantara Yesus kepada mereka.

“Ya, Yesus Kristus, jadikanlah kami penyambung suara dan tindakan-Mu kepada orang lain. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)