Merajut Damba Awal September
Mosaik Serpihan Kelana -33
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Merah padam senja membawa Agustus pergi
Entah apa dan siapa yang sirna bersama waktu
diantar senja Agustus merangkul rahim malam samudra
Cerita galau lara korban bencana
dan kisah duka derita nasib rakyat jelata
Berpasrah lebur dalam arus gelombang zaman
sirna dari gebyar panggung sandiwara dunia
Bulan Agustus adalah fakta dan misteri dinamika
dalam ziarah insan mencari jawaban tanya hakiki
dalam derap kelana manusia menyibak misteri realitas
di luar tradisi dan kreasi kata bahasa
Angka dan kata kembali bersemi
September datang dalam roda kalender
seakan waktu dan ruang bisa diatur pikiran
seolah roda alam mampu dikendalikan nalar insan
Siang malam kembali dialami sebagai realita
bulan September menjadi meterai waktu untuk melukis jejak damba
Padahal…
sejatinya ini hanya tradisi mimpi
dari tanya dan ketakberdayaan insani
di hadapan realita misteri Sang Ilahi
Kita harus menjadi apa dan siapa
dalam dinamika roda waktu dan ruang
meskipun nyatanya tak berdaya dan tak mengerti
Merajut damba awal September
ada agenda pribadi ditagih fakta kebutuhan
ada jadwal bersama menjalin relasi kepentingan
Sedangkan alam juga memaksa untuk bersinergi
bahkan harus sirna atau mengubah semua rindu damba
Bencana alam datang melanda tanpa kompromi
seperti gempa, erupsi dan banjir
Kreasi manusia pun terjadi di luar harapan
seperti korupsi, kebakaran dan aneka kejahatan
Keputusan harus dibuat setelah mempertimbangkan pilihan
termasuk pasrah tak membuat keputusan apa pun
untuk menghadapi fakta, misteri, dan realita
Merajut damba awal September
setiap pribadi seperti menjadi pelukis di hadapan kanvas kemungkinan
Kita membawa aneka warna untuk melukis pelangi pribadi
Entah akan sempurna terjadi atau justru hasilkan sosok wajah berbeda
Entah karena ada kreasi yang diilhami inspirasi
Entah karena keadaan dari luar memaksa berinovasi
Kita terus ada dan menjadi dalam dinamika inkarnasi
Tetapi kehidupan menagih kita harus tetap melukis potret diri
Rindu menahan waktu untuk digoresi warna-warni
Damba menyekat ruang agar dihiasi aneka kisah cerita
Hari kemarin adalah nostalgia memori
Hari ini fakta dan misteri realita
Esok adalah damba yang dinantikan terjadi
Kita adalah kelana damba dalam fakta, misteri dan kemungkinan
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.