Refleksi Filosofis Antropologis:
Sketsa Sekeping Wajah Bermuram Durja

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sejatinya tidak ada durja, yang ada hanyalah manusia yang belum sempat Anda peluk”
(Idealisme Sejati)
‘Muram durja’ itu antara rasa sedih, marah besar, rasa kecewa, tapi toh tetap pasrah. Ya, kondisi miris itu ibarat suatu penyakit komplikasi.
Secara antropologis, bahwa setiap dari sekeping wajah itu ibarat sebuah peta peradaban dunia.
‘Durja’ adalah sebuah kata yang berkonotasi serba negatif: ya, itu orang jahat, kaum bercelaka, dan kelompok orang yang sial belaka.
Bukankah sebuah kejahatan itu tidak serta merta terjatuh dari langit, melainkan dia justru lahir dari rasa lapar yang tak berjawab, maka dia mencuri, maka anjloklah harga dirinya.
Filosofinya, bahwa tidak ada manusia yang terlahir ‘durja,’ tapi yang ada hanyalah manusia yang lama berada dalam kegelapan sampai ia lupa, bahwa ada seberkas cahaya dalam hidupnya.
Sekeping Fragmen Kemanusiaan
Mengapa hanya ‘sekeping?’ Ya, karena riil pula, bahwa kita tidak pernah bisa melihat manusia secara utuh. Sering kali yang dilihat hanya satu sudut: di saat dia mengamuk atau tersenyum manis, misalnya.
Secara antrolologis, bahwa “Janganlah kamu melihat hanya ‘sekeping’ (sebagian), lalu kamu mengira itu keseluruhan lukisan.
Oh ya, di balik wajah muram itu sedang termangu seorang pria paro baya yang gagal bayar uang sekolah cucunya. Atau juga seorang Nenek ringkih yang merintih kelaparan, atau juga seorang anak yatim yang baru dapat makan setelah dikenyangkan lewat amarah dari orangtua angkatnya.
“Sketsa” itu adalah Undangan untuk Mengisi
‘Sketsa’ itu adalah garis yang belum berwarna dan bahkan belum tuntas. Inilah etika kemanusiaan yang paling luhur.
Melihat, mencatat, tapi tidak melempari batu. Ya, karena tugas kita sebagai manusia ialah mengubah sketsa muram itu jadi sebuah lukisan lewat lembaga sekolah, dengan sikap adil, atau dengan cara didengarkan.
Amanat Utama
Wajah muram itu adalah alarm suatu peradaban.
Penutup
Sejatinya, tidak ada durja, yang ada itu hanyalah manusia yang belum sempat Anda peluk.
Malang, 2 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.