Manusia Rohani

Beberapa mahasiswa non Katolik yang ikut dalam rombongan wisata rohani ke salah satu daerah pelosok Indonesia. Padahal semua tempat ziarah adalah pusat devosi Katolik. Meski merasa di luar konteks, mereka percaya diri untuk bergabung. Yang non Katolik tentu banyak bertanya tentang iman Katolik, dan hal ini wajar. Yang jadi susah, kalau terlalu banyak pertanyaan, mereka yang Katolik jadi susah menjawabnya.
Ketimbang terlibat dalam perasaan tidak nyaman di antara mereka, seorang pemuda non Katolik berkata: “Kami menyadari sebagai manusia dengan kualitas rohani yang kurang, dan membuat cara pandang kami sangat terbatas.” Dengan pengakuan diri yang rendah hati itu, maka kekuatiran akan rasa tidak nyaman perlahan berkurang dan mereka yang non Katolik dapat mengikuti seluruh proses ziarah dengan tenang.
Kita perlu secara jujur mengakui, ketika sedang sibuk dengan segala urusan dari pagi hingga beranjak ke tempat tidur malam hari, banyak pengalaman dan situasi yang membuat diri kita lebur dalam aneka cara duniawi. Hal ini sangat beralasan untuk menjadikan kita berbuat, berpikir, merasakan seperti yang dunia inginkan. Baru setelah ada kesempatan untuk pemeriksaan batin dan kesadaran, misalnya menjelang tidur, kita menyadari, bahwa ternyata dalam satu hari, porsi kerohanian yang masuk dan menguasai diri kita sangat kurang.
Jika umat Katolik diwajibkan untuk menghadiri Misa setiap hari Minggu itu ada benarnya. Mereka hendaknya melepaskan diri dari sekadar suatu kewajiban atau didorong oleh motivasi lain. Motivasi sebenarnya ialah tindakan untuk membaharui diri terus-menerus, sehingga di dalam dirinya tercipta satu pribadi manusia rohani yang menerima Kristus, dan untuk selanjutnya di dalam seminggu ke depan mereka hidup bersama Kristus. Inilah yang dimaksud dengan manusia rohani yang ditekankan oleh Santo Paulus (1 Kor 2: 10b-16).
Menjadi seorang manusia rohani itu impian setiap pengikut Kristus. Melalui kemampuan rohani yang cukup, kita bisa berbuat seperti Yesus Kristus, antara lain ikut mengusir roh jahat yang selalu mengancam kehidupan kita. Dengan kualitas rohani yang memadai, aura dan cahayanya dapat menarik orang lain kepadanya, untuk berusaha maju dalam hidup rohaninya. Bahkan roh jahat itu langsung mengetahui kualitas orang yang rohani lebih tinggi tingkatnya dibandingkan kekuatan jahatnya.
“Ya, Allah, kuatkanlah iman kami agar dapat melawan segala kuasa jahat di sekitar kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.