Banyak Anak Banyak Rezeki

“Bukan tanpa perencanaan, apalagi salah langkah, melainkan “banyak anak banyak rezeki” itu anugerah Tuhan yang harus disyukuri.” -Mas Redjo

Sekali lagi, juga bukan karena gagal atau menolak ber-KB, melainkan adagium ini maknanya dalam, bahwa orang yang berbagi ikhlas hati itu kaya rohani dan banyak rezeki.

Banyak anak banyak rezeki itu juga tidak bersifat mutlak secara harfiah, tapi menuntut kesiapan finansial, mental, dan tanggung jawab orangtua. Anak adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri untuk dimaknai agar hidup keluarga berkenan bagi-Nya.

Orang berumah tangga itu agar mempunyai keturunan; beranak pinak. Tapi berbeda bagi biarawan/biarawati dan mereka yang hidup selibat itu untuk jadi mempelai Tuhan Yesus agar kaya rohani.

Coba ingat kisah inspiratif St Laurensius. Ketika diminta oleh penguasa Roma agar menyerahkan harta Gereja. Ia membawa orang-orang miskin, sakit, lumpuh, dan hina sehingga ia dihukum mati.

Peristiwa yang tragis dan ironis?

Bagi dunia itu, iya. Jika pikiran dan gerak hidup kita diorientasikan untuk memburu kenikmatan daging dan duniawi semata. Tapi semua itu adalah kesia-siaan yang berujung ratap tangis, kertak gigi, dan derita.

Berbeda bagi kita yang hidupnya diorientasikan demi pengembangan spriritual agar kaya rohani; harta surgawi. Karena umur kita bukan sekadar bilangan waktu, melainkan sejauh mana kita mampu mengisi dan memberi arti dalam hidup ini.

Sejatinya panggilan dan tujuan hidup ini untuk memberi dari yang dipunyai; tidak melulu soal materi. Juga dapat berupa tenaga, pikiran, perhatian kasih, dan seterusnya.

Hakikat hidup Kristiani dengan memberi adalah wujud nyata dari teladan kasih karunia Yesus Kristus, sekaligus bentuk ungkapan syukur kita kepada Allah.

Mas Redjo