Refleksi Filosofis dan Antropologis:
Cinta dan KemanusiaanRoro Mendut-Prono Citro vs Juliet-Romeo

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Semoga Anda dan saya jadi manusia yang mampu mencintai, seperti Romeo yang berani. Setia, seperti Prono Citro, yang tulus bak marpati hingga akhir.”
(Dambaan Kemanusiaan)

Ya, di antara dunia dan riak-riak air kemanusiaan. Antara: Dua buah kisah, dua buah dunia, dan dua buah zaman. Tapi air mata keduanya masih dan tetaplah sama asinnya.

Yang satu di tanah Jawa (Asia) yang dililiti batik dan yang satunya dari Verona (Eropa) yang dililiti seutas jubah.

Pertanyaannya tetaplah sama: “Seberapa jauh manusia mau berjuang demi sebuah cinta?”

  1. Cinta yang Dilawan Kuasa

a. Juliet dan Romeo
Keduanya jatuh cinta amat dalam, dan sungguh romantis, tapi yang berakhir sadis. Mengapa? Keduanya berasal dari keluarga yang bermusuhan (Montrague vs Capulet). Kedua nama itu akhirnya memisahkan keduanya selamanya.

Apakah jadinya? Akhirnya keduanya memilih untuk mati bersama.

b. Roro Mendut-Prono Citro

Ya, lagi-lagi cinta mereka terbentur dan bahkan dibunuh oleh tembok: status dan kuasa Tumenggung Wiro Sari. Prono Citro direbut paksa dan Roro Mendut pun dipaksa menikah. Tapi nasib berkata lain, keduanya akhirnya memilih mati bersama di Bengawan Solo, karena dunia menolak cinta rakyat jelata.

Bagaimanakah Filosofinya?

Alam semesta mengajarkan manusia, bahwa cinta seolah selalu berhadapan dengan kuasa: (ya, kuasa antara adat, jabatan, dan keluarga). Dulu dan sekarang rasanya sama saja, walau bentuknya berbeda.

  1. Beda Jawaban atas Kematian

Ya, khas paling ‘Jawa’ dan paling ‘Eropa.’ Juliet-Romeo: Dari Tragedi dan Protes. Keduanya mati, karena putus asa, baiklah kita bersama di kubur saja, jika tidak di dunia.

Roro Mendut-Prono Citro: Pasrah Manunggal

Keduanya mati dengan menyatu ke alam, ya, ke sungai, air yang mengalir sunyi. Raga keduanya boleh pisah, tapi sukma mereka tetaplah satu.

Bagaimanakah Filosofinya?

Eropa pun bertanya, “Bagaimana cara agar menang di saat melawan dunia?”

Jawa pun bertanya, “Bagaimana caranya agar bisa menang melawan ego, agar bisa bersatu dengan semesta?”

  1. Pesan Kemanusiaan
    Ya, dapat kita konklusikan, bahwa “cinta tanpa keadilan akan jadi tragedi” (Kemanusiaan tanpa cinta akan jadi mesin).

Juliet-Romeo mengajari kita: “Beranilah melawan tembok yang tidak adil.”

Roro Mendut-Prono Citro mengajari kita: “Setialah, walau dunia tidak adil.”

Ya, keduanya memang benar. Karena bukankah manusia membutuhkan dua keping sayap: “Keberanian dan Keadilan.”

Bagaimana kita kini? Apakah kita, akan jadi Capulet yang memisahkan? Ataukah jadi Bengawan Solo yang tetap mengalir dan menyatukan?

Kediri, 1 September 2026