Tantangan Penyangkalan Diri

Kita semua pengikut Kristus selalu mendengar, mengucapkan, dan melakukan tindakan penyangkalan diri. Hal ini terjadi juga dengan dua anak, kakak dan adik yang masih SD kelas enam dan empat. Mereka dilatih untuk membereskan tempat tidurnya, setelah bangun.
Mereka sering merasa bosan atau malas melakukannya. Suasana bangun pagi sangat tidak menyenangkan untuk bekerja membereskan tempat tidur. Dengan sabar dan tekun orangtua membimbing kedua anak itu agar dapat mengalahkan rasa bosan dan malasnya. Sang Kakak ikut memotivasi Adiknya agar berusaha membereskan tempat tidurnya masing-masing, sehingga mereka tidak lagi bosan dan malas.
Upaya mengalahkan rasa bosan dan malas serta ketekunan dalam mewujudkannya merupakan contoh penyangkalan diri. Inti setiap tindakan penyangkalan diri ialah pengontrolan atau penyangkalan atas keinginan pribadi atau suatu kesenangan tertentu. Maksud penyangkalan ini ialah, demi menjalankan dan mencapai suatu tujuan lain yang bukan jadi kehendak diri sendiri. Kehendak yang lain itu memberikan suatu harapan yang tinggi dan lebih bagus untuk dicapai, meskipun harus melalui cara dan proses yang sulit.
Semua bentuk cara penyangkalan diri yang kita lakukan di dunia ini mendapat sumber kekuatan dan inspirasinya dari Tuhan Yesus. Ia mengajarkan kita, bahwa penyangkalan diri adalah cara satu-satunya yang kita pakai untuk mengikuti-Nya. Jalan Yesus adalah jalan salib dan kita dituntut untuk dapat memanggul salib masing-masing agar menjadi seiring dan seperjuangan dengan Yesus Kristus. Salib adalah tanda kesulitan dan penderitaan yang perlu dinikmati dan dipikul. Kita tidak boleh membuangnya.
Nabi Yeremia menerangkan, bahwa penyangkalan diri patut dilakukan dengan mengalahkan godaan untuk meniadakan firman Tuhan. Ketika kita mendengar Sabda yang tegas dan menuntut, hendaknya kita tidak boleh menghindarinya. Santo Paulus juga mengajarkan kita untuk membuat penyangkalan diri dengan mempersembahkan tubuh kita, dan bukan hanya jiwa serta roh kita. Tubuh kita tidak boleh jadi penjara bagi roh dan jiwa kita. Tubuh yang lelah dan sakit, kita tidak dapat berdoa dan melayani atas nama Tuhan. Jika mata, telinga dan sentuhan kita tidak difungsikan dengan benar, kita mudah jatuh ke dalam dosa.
Sesungguhnya, kita masih belum mantap dan konsisten dalam penyangkalan diri demi menjadi murid Yesus yang sejati. Semua bentuk pengorbanan itu adalah tantangan bagi kita untuk menjalaninya dan tidak ada jalan mundur.
“Ya, Tuhan semoga kami menjadi semakin menyatu dengan salib Putra-Mu dan rela memanggul salib kami masing-masing. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.