Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Menggunakan air untuk berbagai keperluan setiap hari, sering membuat terbiasa dan lupa berpikir tentang kewajiban peduli dan menjaga kelestariannya. Reaksi spontan biasanya muncul, ketika air yang dibutuhkan bermasalah atau habis.
Atas penting air itu, saya tuliskan dalam sebuah sajak berjudul:
Senandung Tanya tentang Air
Mentari bagikan terik cahaya
tanpa lelah dengan cinta
tak bedakan suci dosa
dari setiap anak manusia
Samudera menerima semua suka duka
yang dialirkan dalam pelukannya
dari selokan, sungai dan muara
semua buah tangan manusia
Uap doa dari lautan
menggapai langit membelai mentari
Jadi awan turunkan hujan
basahi bumi sirami insan
Air untuk kehidupan terjadi
Hijau hutan belantara di gunung dan lembah
memeluk air menyimpan cinta
Pancarkan mata kasih sayang
Alirkan air kehidupan
bagi manusia dan makhluk lain
Namun
keserakahan membabat hutan
keganasan merobek perut bumi
mengajari air semakin buas membanjir
menerjang dengan bandang amarah
mengadu ke pangkuan samudera
Air untuk kehidupan manusia
tak pernah berhenti dibutuhkan
Tetapi
semakin jarang kita peduli
menjaga agar air lestari
memancar dari tanah ini
turun dari langit pada musimnya
Sejarah mencatat fakta alam
Semakin sering disirami polusi
racun sampah dari kerakusan
Apakah kita masih perlukan air
untuk minum mandi dan cuci
untuk aneka kebutuhan kehidupan
Ataukah
Tubuh hanya perlu data
dengan listrik jadi energi
Lalu kita bisa hidup tanpa air?
Senandung tanya tentang air
adalah lagu kehidupan kodrati
Selalu dinyanyikan tapi tak terdengar
Terus bergema tapi tak dipeduli
Semakin dipertanyakan namun jarang dijawab
Entahย sampaiย kapan
…
Foto ilustrasi: Istimewa | Air terjun Laipopu Sumba barat

