Belajar dari Pucuk Cemara

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jadilah seperti pucuk cemara: lancip, bertujuan, liuk dalam sikap, dan tetap menaungi, meski tetap berdiri sendiri.”
(Amanat Hidup Sejati)

Sungguh unik pucuk Cemara itu. Mengapa? Lihatlah pada langsing dan kaku batangnya. Ternyata, secara alam biologis hal itu justru berfungsi demi melawan badai. Di sisi lain, ia tetap luwes dan meliuk lentur pucuknya menghadap ke langit.

  1. Lancip Menyasar Tujuan

Pernahkah Anda melihat Cemara yang pucuknya mendatar atau menekuk? Tidak, bukan? Tapi ia selalu akan menunjuk ke atas.

Dalam konteks ini, filosofinya, bahwa hidup ini memang harus memiliki arah dan kiblat yang jelas.

Praksisnya: bahwa ‘setinggi dan sedasyat apa pun badai menerjang, hendaklah janganlah Anda mau mengubah arah hidupmu.’

  1. Meliuk: Fleksibilitas dan Kerendahan Hati

Masih ingatkah pada pepatah bangsa kita, “Belajarlah pada ilmu padi, yang kian berisi justru kian menunduk?” Ya, memang riil, bahwa tubuh batang Cemara itu kaku, tapi betapa meliuk pucuknya.

Dalam konteks ini, bahwa ‘sesuatu yang memang kuat, tidaklah berarti ia harus keras dan kaku, bukan?’

Praksisnya, para arifin pun lentur dalam hidupnya, tapi janganlah Anda kira, bahwa mereka kalah, namun mereka justru bersikap luwes.

  1. Sendiri, namun Teduh

Jika Anda cermat memandang, bukankah Cemara itu selalu bertumbuh sendirian di atas bukit? Tapi, ia justru disukai oleh burung-burung demi meletakkan sarangnya bukan?

Dalam konteks ini, filosofinya, bahwa tanda ‘kedewasaan itu ialah, jika Anda mampu bersikap mandiri, namun tetap berkontribusi bagi kehidupan ini.’

Sebuah Amanat Kecil

“Jadilah seperti pepucuk Cemara: yang memiliki tujuan hidup, melancip, meliuk, dan mampu menaungi, sekalipun ia berdiri sendiri.”

Anda pun adalah sebatang Cemara yang kini sedang melancip di atas bukit kehidupan!

Kediri, 30 Agustus 2026