Berbicara Kebenaran dan Pertahankan Kemurnian

Bertepatan dengan peringatan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, hati dan pikiran kita diarahkan kepada pribadi yang teguh dan lantang yang membawa suara kebenaran sampai menyentuh relung hati terdalam manusia. Ia berani dan pantang menyerah menantang penguasa tertinggi lantaran hidup tidak bermoral yang jauh dari ketulusan dan kemurnian.
Berbicara kebenaran dan memelihara kemurnian baik dalam ikatan perkawinan suami dan istri, maupun suatu mentalitas hidup tulus-murni sebagai hidup yang bermartabat, ini adalah potret kehidupan Yohanes Pembaptis. Jauh sebelum dia, ada Nabi besar Yeremia yang sangat tertekan, karena diancam mati oleh para musuh, dan ia tak pernah menjauh dari Tuhan. Dirinya berdiri tegak pada kebenaran Allah, dan hati serta pikirannya murni berbakti kepada Allah.
Sejatinya yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan Yeremia ini merupakan bagian dari warta gembira Yesus Kristus. Pribadi Yesus adalah kemurnian itu. Pikiran dan hati yang murni selalu bebas dari hal-hal negatif, kacau, abu-abu, berbelit-belit, rasionalisasi, mencari kambing hitam, menghakimi, dan berbohong. Dengan bertindak yang benar, nilai kemurnian itu ditegakkan dan diperkuat.
Yesus mengecam keras orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, karena kata dan perbuatan mereka tidak benar. Hal ini diperparah dengan intensi dan motivasi mereka yang tidak murni. Ketika kebohongan, tipu daya, kesombongan dan nafsu itu ikut mengganggu kehidupan kita sebagai umat beriman dan masyarakat, dipastikan kebenaran terancam hilang dan kemurnian nurani manusia terancam pudar. Biasanya para musuh kebenaran, ketulusan dan kemurnian itu menggunakan kekerasan untuk membinasakan para pegiat dan pejuang kebenaran.
Yeremia, Yohanes, dan Yesus mengalami hal itu. Tapi perjuangan dan upaya mempertahankan kebenaran dan kemurnian itu tidak pernah berhenti sampai saat ini dan seterusnya. Mengapa para musuh tidak sampai berhasil menghilangkan kebenaran dan hidup murni itu, meski mereka telah mengusahakan itu sejak zaman Yeremia dahulu? Karena pikiran dan hati manusia diciptakan untuk kebenaran dan kemurnian yang bersumber pada Tuhan. Kita percaya dan mengungkapkan iman, bahwa Tuhan memilih untuk tinggal di dalam diri dan hati kita. Kalau kita hilang kepercayaan ini, di situ akan mulai penyangkalan akan kebenaran dan kemurnian. Di dalam diri kita yang terdalam, sebenarnya kita ingin hidup benar dan murni. Semoga kita tetap ingin kembali pada kebenaran dan kemurnian hati nurani.
“Ya, Bapa, di dalam rahmat-Mu kami menemukan belas kasih-Mu untuk membawa kami kembali kepada-Mu, setelah kami gagal dan berulah dalam menaati kehendak-Mu. Kuatkanlah kami untuk semakin setia dan benar di dalam hidup iman kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.