Jeritan di tengah Bencana Alam
Mosaik Serpihan Kelana -29
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Dalam ketakutan akan keterbatasan jiwa raga
kusebut nama-Mu, ya, Tuhan
meski malu dan galau hadapi fakta
Atas kesombongan diri yang biasanya pongah
Atas kefanaan harta benda dan aneka gelar jabatan
Atas mutlaknya ketergantunganku pada sesama dan alam jagat semesta
Atas ketakmampuanku di hadapan aneka bencana alam
Atas kemiskinan pribadi di hadapan keagungan Ilahi-Mu
Aku hanya ciptaan sementara dalam ruang dan waktu
Aku ternyata bernafas dari udara
yang tak mampu kubayar atau ciptakan sendiri
Aku selalu menapak di debu tanah
dan menerima makan minum dari alam ini
Aku tak pernah terpisah dari peran sesama saudara dalam hidupku
Ya, Sang Ilahi
mohon ampun-Mu
atas salahku lupa berterima kasih
mohon kerahiman-Mu atas seringnya tak tahu bersyukur pada-Mu
Terima kasih atas hikmah bencana alam ini
Ketika bumi berguncang ganas
jiwa raga galau kebingungan harus berbuat apa
entah kepada siapa berharap selamat
entah dengan apa mampu menghentikannya
Gempa dan aneka bencana alam datang tak terduga
Ternyata aku tak mampu berbuat apa-apa
Apakah akan terhindar dan luput selamat
ataukah harus menjadi korban dan sirna
Tak sadar dan spontan kupanggil nama-Mu, ya, Tuhan
Ketika masih luput dari bencana
dan ternyata selamat dalam kejadian alam melanda
Ada keharuan dan kesadaran diri mencengkram jiwa raga
Aku takut, cemas, galau, dan gentar
Kusebut nama-Mu yang Ilahi dengan lirih dan malu
bahkan terjadi di luar kesadaran nalar
Saat saksikan dasyatnya alam beraksi
ada sesama yang nyawa hilang
ada saudara yang terluka menderita
ada harta benda rusak dan hancur
Aku menjadi papa lara merana
karena sadar tak berdaya untuk sombongkan diri
Jeritan tangis dan air mata kebingungan
menikam hakikat pribadi menyadari
bahwa
kesombongan dan ingat diri ternyata fana tak berguna
Makna hidupku digugat saat bencana dan lara derita
Apa dan siapakah aku ini
Bagaimana pilihan dan keputusanku sebelum tertimpa bencana alam
Seperti apa relasiku dengan sesama saudara
Apa sikap dan cara pandangku terhadap alam lingkungan
Adakah tempat bagi Sang Ilahi
dalam setiap desah nafas dan detak jantungku
Ada pikiran nakal lincah terlintas
“Mungkin saya butuhkan seringnya bencana alam
agar menyadari apa dan siapa aku”
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.