Kesiapsiagaan Rohani dan Kebijaksanaan Waktu

Pernahkah kita mengalami momen penting yang terlewat hanya, karena kita tidak siap? Seperti mahasiswa yang datang terlambat ke ruang ujian, karena mengira jadwalnya esok hari. Ia siap secara ilmu, tapi lalai berjaga. Hasilnya, kesempatan itu hilang.
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang sepuluh gadis yang menanti mempelai. Lima gadis bijaksana membawa pelita dan minyak cadangan; lima lainnya tidak. Ketika mempelai datang, hanya yang siap yang masuk dalam perjamuan.
Santo Agustinus tahu benar makna kesiapsiagaan rohani. Ia pernah hidup dalam pencarian dan kesenangan duniawi. Ketika rahmat mengetuk, ia menyambutnya dan mengubah hidupnya. “Terlambat aku mencintai-Mu,” tulisnya dalam Confessiones, “keindahan yang begitu lama dan begitu baru.” Tapi ia tidak terlambat berjaga, ketika hatinya dibuka bagi Tuhan.
Berjaga berarti hidup dengan kesadaran, bahwa waktu adalah anugerah yang bisa berakhir kapan saja. Marilah kita mengisi hidup dengan kebaikan konkret: Mengunjungi yang sakit, hadir untuk yang putus asa, menjadi terang dalam lingkungan yang penuh kecemasan. Bukan sekadar tahu kebaikan, melainkan melakukannya secara nyata.
Tuhan, ajarilah kami untuk hidup bijaksana, tidak menunda berbuat baik. Berilah kami hati yang peka akan waktu-Mu dan keberanian bertindak dalam kasih. Jadikan kami terang bagi dunia, seperti Santo Agustinus. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.