Deru Gelora Rakyat Menggugat
Mosaik Serpihan Kelana -28
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Dalam desah nafas insani
roda nafsu selera bergelora mengiringi
Bersama detak jantung kita manusia
kebutuhan dan kepentingan mengalir membasahi jiwa raga
Sejarah mencatat dinamika nalar beraksi
untuk memilah dan memilih
untuk menentukan dan memutuskan
Ada yang menghalalkan segala cara
demi selera, kebutuhan dan kepentingan diri
Sedangkan banyak pribadi menjadi korban tak berdaya
Namun…
ada saatnya lara derita duka bisa menjelma
Dari mereka yang diam dan terbungkam
bisa bangkit berdiri dan berontak
hasilkan gelegar suara gugatan membahana
Revolusi rakyat tertindas dan lara merana
kepada penguasa koruptor rakus tamak
kepada politisi busuk dan pebisnis maling jahat
Dari tetes air mata rakyat sederhana perlahan mengalir kepada banjir darah dan gelombang samudra lara derita
Ketika pejabat negara menjadi penguasa koruptor
Ketika hukum tak berwibawa dan menindas rakyat
Ketika keadilan dan pemerataan pembangunan hanya slogan kosong
Ketika kebijakan para pejabat negara justru tidak menyejahterakan rakyat
Ketika utang negara membengkak dan dibebankan kepada rakyat
Saat kekayaan sumber daya alam dikuras untuk kepentingan pribadi dan kelompok
Saat sumpah jabatan, pidato dan janji politik hanya tipu daya dan slogan kosong
Maka…
rakyat bangun bersatu berteriak
menuntut keadilan
Bahkan harus berkorban nyawa dan harta benda
Kejahatan terhadap hak rakyat dan negara harus dihentikan
Dari kata janji menjadi kisah cerita panjang beragam topeng wajah
Nilai kearifan leluhur terus dihancurkan atas nama pembangunan
Sejarah bangsa bisa ditulis ulang sesuai kepentingan penguasa
Sumpah jabatan hanya seremonial dan alat manipulasi
Nilai kebangsaan dan kemanusiaan sering hanya menjadi slogan
Pidato dan janji politik justru hanya parade kata-kata manis pejabat
Antara kata-kata dan tindakan pejabat negara sering tak sesuai
Korupsi, kolusi dan nepotisme justru dibudayakan dan dibanggakan
Yang kaya tertawa dan berpesta pora
sedangkan rakyat tambah miskin menderita
bahkan merana dan mati di tengah kelimpahan sumber daya alam dan tanah warisan leluhurnya
Undang-undang Dasar dimutilasi dan Pancasila diabaikan maknanya
Maka…
para pewaris bangsa dan pemilik negara marah
Kemajuan zaman telah membuka mata kesadaran
Harus bangkit bicara dan menggugat
“Katakan benar itu benar
Katakan salah itu salah”
Dari percikan api tipu daya menjadi padang api korupsi yang terus menyala membakar harkat martabat rakyat
Karena hukum dibuat untuk melindungi kepentingan pejabat
tetapi terus menyiksa dan merampas hak rakyat
Karena keadilan hukum dan politik sering hanya slogan para penjahat
sedangkan menjadi belenggu
penindas masyarakat kecil
Anggaran pembangunan justru dirampok oleh para pejabat koruptor
yang menciptakan dan mengendalikan aturan hukum
yang berkolusi dengan politisi busuk dan pemodal rakus tamak
Korupsi sudah dilakukan terang-terangan dan menjadi budaya yang dibanggakan
Sering penyelesaian kasus tidak jelas dan muncul kasus baru
sehingga rakyat hanya terus galau kebingungan sebagai korban dan penonton dungu
Entah ke mana negara mau dibawa pergi
Entah NKRI merdeka untuk apa dan siapa
Entah masihkah berarti ajaran leluhur, adat budaya, hukum dan iman agama
Hari ini rakyat bicara menggugat
Saat ini penerus bangsa bangkit memberontak
dari berbagai pelosok kampung dan daerah datang
menuju pusat Ibukota Republik Indonesia
Suara rakyat kembali berpekik bergemuruh
menuntut kebenaran dan keadilan bagi hak dan harkat martabatnya
Sudah sekian lama dan terus berlarut
nasib penderitaan rakyat dan fakta ketidakadilan terjadi
Dari hakikatnya rakyat adalah pemilik hak kedaulatan dan pewaris negeri
Justru menjadi budak miskin korban penindasan dan ketidakadilan oleh segelintir anak bangsa
yang seharusnya menjadi Abdi negara dan pelayan rakyat
Mereka justru menjadi penguasa dan penjajah
dengan fakta korupsi yang beranak pinak hingga kini
Rakyat menggugat, berontak dan berevolusi
NKRI harus diselamatkan dan kembali pada prinsipnya
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.