Kesetiaan dan Ketekunan dalam Berjaga

Seorang Ibu bercerita, mendoakan anaknya setiap malam, meski anak itu tidak lagi percaya pada Tuhan. Bertahun-tahun ia menanti perubahan, dengan air mata, harapan, dan cinta.
Apa yang membuatnya bertahan?
Jawabannya sederhana: kasih yang sabar dan iman yang teguh.
Dalam Injil, Yesus mengingatkan untuk, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Menjaga hidup bukan soal ketakutan, melainkan kesetiaan: terus setia dalam tugas, cinta, dan iman, walau hasilnya itu belum kelihatan.
Santa Monika adalah teladan nyata sabda ini. Ia berdoa selama hampir dua dekade bagi pertobatan putranya, Agustinus. Ketekunannya bukan hanya membuahkan pertobatan, melainkan juga melahirkan seorang Santo besar Gereja. “Anak dari air mata seperti itu tidak akan binasa,” kata Uskup Ambrosius kepada Monika, dan itu jadi kenyataan.
Berjaga itu berarti setia jadi pribadi berbelas kasih di tengah dunia yang mudah menyerah. Hal itu bisa diwujudkan dalam kehidupan kita. Misalnya seorang Guru yang terus mendampingi muridnya yang sulit belajar, relawan yang tidak lelah mengunjungi lansia, atau orang muda yang tetap menjaga integritas di tengah godaan dunia.
Tuhan, ajarilah kami berjaga dalam iman dan kasih, seperti Santa Monika yang tidak lelah berharap. Berilah kami hati yang setia, walaupun belum melihat hasilnya. Jadikan hidup kami saluran rahmat bagi sesama. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.