Si Bibir Najis

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Celakalah aku! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir.”
(Yesaya 6:5)

  1. Siapakah si ‘Najis Bibir’ itu?

Oh ya, dia bukanlah orang jahat bahkan dia itu seorang Nabi, tentu dia orang baik. Tapi, di saat dia melihat kemuliaan Tuhan di Bait Allah, maka dia sungguh sadar, bahwa “bibirnya memang juga kotor.”

Adapun makna dari ‘bibir’ dalam Alkitab adalah sebagai ‘pusat’ dari sekeping hati (Karena apa yang diucapkan mulut meluap dari hati)(Mat 12: 34).

Konteks ‘najis bibir’ itu identik dengan:

  • a. Menggosip,
  • b. Berbohong,
  • c. Sumpah serapah,
  • d. Munafik, dan
  • e. Bungkam di saat harus mengucapkan kebenaran.
  1. Tiga Buah Pelajaran dari Si Najis Bibir

a. Pengenalan akan Tuhan sama dengan Pengenalan akan Diri

Oh ya, ternyata Yesaya pun kian sadar, bahwa dirinya memang najis, justru setelah dia melihat, bahwa Tuhan memang kudus. Artinya, kian ia mendekati Sang Terang, maka kian sadarlah dia, bahwa dirinya hanyalah setitik debu (Di hadirat Tuhan, kita semua adalah si najis bibir).

b. Najis itu Menular:

“Aku ini tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir.” Artinya, lingkungan hidup pun dapat membentuk pribadi kita.

c. Penyucian Datang sebelum Panggilan

Apa yang terjadi setelah Yesaya mengakui, bahwa dirinya memang bernajis bibir? Maka, Serafim pun mengambil bara api dari Mezbah, lalu menyentuh bibirnya. Hal itu bermakna, bahwa “kesalahanmu telah dihapus.”

Yesaya siap diutus, setelah dirinya disucikan. “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6: 8). Tuhan sungguh tidak berkenan kepada sosok pribadi yang bernajis bibir untuk mewartakan Kabar Baik.

  1. Si Bibir Najis vs Ketulusan bak Merpati
  • Jika si bibir najis, ia ngomong dulu baru mikir, maka si tulus Merpati, mikir dulu baru ngomong.
  • Jika si bibir najis melukai dengan kata, maka si tulus Merpati, justru menyembuhkan lewat kata.
  • Jika si bibir najis cari pembenaran, maka si tulus Merpati, justru cari kebenaran.
  1. Doa Penyucian Bibir

Tuhan, ampunilah aku yang najis bibir ini.

Aku malah bungkam, di saat harus menyerukan kebenaran.

Maka, bantulah aku, sentuhlah bibirku dengan bara dari Mezbah-Mu.

Semoga, dari mulutku, ke luarlah berkat, agar aku pun boleh lantang berseru, “Inilah aku, utuslah aku.” Amin.

Kediri, 26 Agustus 2026