Penggali Makam

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuhan, Engkau sadarkan aku lewat
penggali makam. Ya, aku ini hanya segenggam debu tanah.”
(Sepotong Doa Kesadaran)
Refleksi Filosofis tentang Misteri Kematian, Kehidupan, dan Makna Sentralnya.
- Siapakah Penggali Makam itu?
- Oh ya, dialah sosok yang kerjanya hanya berhadapan dengan kematian.
- Bukan dengan kelahiran, pesta pora, dan bukan pula dengan hingar bingar sebuah panggung.
- Melainkan hanya dengan ayunan cangkul, peti jenazah bisu, tangisan pilu, peluh menempel di jidat, dan ayunan gerak lengan nan perkasa.
Inilah filosofinya: Bukahkah dialah pengingat hidup yang paling ikhlas? (Kala semua manusia berpura-pura lupa akan misteri kematian, dialah pembangun kita dari tidur panjang kepura-puraan). Ingatlah! Dialah yang berteriak lantang:
- Hodia Mihi Cras Tibi!
- Memento Mori!
“Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan dari setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”
(Pengkhotbah 7: 2).
- Tiga Buah Kebenaran dari Penggali Makam
- a. Kebenaran Pertama: “Dia Mengajari Manusia tentang Persinggahan
Dunia kita ini bukan rumah, melainkan hanya sebuah tenda darurat. Herbang liang makam itulah bukti konkretnya: bahwa jabatan, harta, nama besar, dan lain-lain itu.hanyalah sebuah kenangan pahit, bahwa kita memang pernah singgahi tenda darurat ini.
Inilah filosofinya: Bukankah penggali makam itu justru tak peduli sama sekali pada semua harta dan pangkat kita? Mengapa? Ya, karena di setiap saat, detik, menit, jam, hari . . . yang dihadapinya hanya 2×1meter (Dia tidak memiliki naluri untuk menimbun, tapi untuk menggali dan mengosongkan, ya, ia tidak serakah).
- b. Kebenaran Kedua: “Dia Mengajari Manusia tentang Nilai”
Bahwa bukankah kelak di depan lubang makam yang menganga lebar itu semua topeng hidup pun akan dicampakkan? Di sini, manusia tidak butuh lagi air mata buaya yang sungguh ada hanyalah cinta, penyesalan, atau pun kelegaan.
Adapun filosofinya:
- Yang biasa dikejar manusia: mobil, follower, dan jabatan.
- Yang ditangisi manusia: Maafkan, aku masih sayang kamu.”
- c. Kebenaran Ketiga: Dia Mengajari Manusia tentang Pengharapan
Ingatkah! Tanah yang digali itu bukan untuk menguburkan harapan, tapi demi menanamkan benih iman: credo “Aku percaya akan kebangkitan orang mati.”
Adapun filosofinya:
- Bagi dunia ini, menggali makam sama dengan akhir.
- Bagi iman kita menggali makam sama dengan jeda (Bukankah benih tang ditanam itu agar dapat bertumbuh?)
“Yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.”
(1 Korintus 15: 42).
- Tiga Buah Pelajaran Hidup dari Penggali Makam
- Hidup itu Ringan: Jadi janganlah mendendam. Jangan pula membawa kepahitan hidup.
- Hidup itu Tulus: (Ya, ia bak Merpati. Kita pun tidak tahu kapan, giliran makam kita akan digali?)
- Hidup itu Siap: Bukan berarti kita takut mati, tapi kita siap untuk pulang. Maka, segeralah menbereskan relasi kita dengan Tuhan dan sesama.
- Sekeping Doa di Depan Lubang Makam
Ya, Tuhan, Engkau menyadarkan aku lewat penggali makam ini. Ya, aku ini hanyalah debu tanah. Ajarilah aku untuk menghitung hari hidupku. Biarkan aku agar dapat pulang sebagai merpati dan bukan sebagai buaya. Amin.
“Kematian itu bukanlah sebuah titik, mekainkan sebagai sebuah tanda koma.”
Kediri, 25 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.