Pribadi Sejati

Di dalam Basilika Santo Yohanes Lateran-Roma di Italia, ada patung ke-12 Rasul Yesus berukuran besar dan gagah. Posisinya ada di sisi kiri dan kanan ruang Basilika, tidak sampai di pelataran altar, tapi di bagian yang ditempati umat. Patung Rasul Bartolomeus tampak dengan jubah dan kulitnya tercabik-cabik serta tangannya memegang pisau. Gambaran ini menandakan, seperti yang dikisahkan dalam sejumlah catatan sejarah, bahwa ia mati sebagai Martir dengan dikuliti seluruh tubuhnya.

Bartolomeus mengenal Yesus pertama kali, ketika Yesus mengakuinya sebagai seorang pribadi sejati. Bartolomeus adalah contoh awal perjalanan iman seseorang sebagai pribadi yang tulus dan kredibel. Ini tentu berbeda dari sejumlah orang yang mulai mengikuti Tuhan sebagai pendosa seperti Matius pemungut cukai, Maria Magdalena dan banyak lagi. Pengakuan Yesus terhadap Bartolomeus belum tentu sama positifnya dengan pengakuan manusia. Para musuh atau penentang Gereja ingin membuktikan, kalau Bartolomeus benar-benar seorang sejati, maka ia harus dikuliti untuk dapat ditemukan kesejatian yang ada di dalam dirinya!

Kesejatian pribadi kita merupakan keutamaan dan status rohani yang membuktikan kita sebagai orang yang pantas di hadapan Tuhan dan baik di tengah sesama kita. Jika musuh ingin mencari dan menemukannya di dalam organ-organ tubuh kita, jelas sekali itu merupakan suatu kebodohan. Seseorang yang sejati dan dapat dipercayai tidak perlu menunggu untuk diakui dan diperkenalkan orang lain. Ia juga tidak perlu menunggu sekiranya Tuhan berkenan membuat dirinya sejati. Setiap orang perlu menciptakan di dalam dirinya kualitas untuk jadi pribadi yang sejati.

Bartolomeus memberikan satu pelajaran, bahwa untuk jadi pribadi yang sejati itu perlu memenuhi kebutuhan perutusan Yesus. Yesus membutuhkan Bartolomeus, selain demi terpenuhi angka 12 sesuai Kitab Suci yang mengikuti jumlah 12 suku Israel, tapi juga untuk perwujudan perutusan-Nya. Pelajaran itu mengenai panggilan dan perutusan kita masing-masing. Kesejatian kita sebagai pengikut Kristus sangat diukur oleh standar, bahwa kita menjawab kebutuhan konkret dalam setiap medan hidup kita.

Jadi, seorang suami atau isteri sejati ialah ia yang menjawab kebutuan pasangannya. Seorang Imam, Biarawan atau Biarawati sejati ialah ia yang memenuhi kebutuhan perutusan Gereja dan tarekatnya masing-masing. Seorang abdi negara yang sejati ialah ia yang menjawab kebutuhan masyarakat, bangsa, dan negara sesuai panggilan hidupnya. Setiap orang dapat jadi pribadi sejati di dalam bidangnya masing-masing untuk menjawab kebutuhan di bidang itu.

“Ya, Tuhan, semoga kami dapat menjadi pribadi sejati di dalam setiap situasi dan panggilan hidup kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)