Diantisipasi dan Ikhlas

“Hidup yang disyukuri itu harus disiapkan dengan sebaik-baiknya agar jalan ke tujuan itu jadi lapang dan lancar.” -Mas Redjo

Saya terinspirasi dan termotivasi dengan nubuat Nabi Yesaya: “Siapkan dan luruskan jalan bagi Tuhan (Yes 40: 3). Nubuat itu lalu digenapi dalam pelayanan Yohanes Pembaptis (Luk 3: 4-5; Yoh 1: 23). Intinya adalah, dari Allah kembali kepada Allah.

Saya dituntut, juga semestinya jadi kredo umat beriman, bahwa hidup sejati itu untuk disyukuri, dijalani, dan dimaknai dengan ikhlas hati.

Seruan hidup untuk menyiapkan dan meluruskan jalan guna meraih sukses itulah yang membuat saya termotivasi agar tekun berjuang dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan (cita-cita).

Dalam hidup ini, kita dituntut untuk menyiapkan diri dengan belajar dan berlatih dengan baik agar terampil. Ketika menghadapi tantangan atau kesulitan, kita mudah mengatasi dan menyelesaikannya. Karena kita telah menyiapkan langkah-langkah antisipasinya.

Sebagai orang beriman, luruskanlah jalan Tuhan itu bermakna untuk menjalani hidup pertobatan rohani, kita meninggalkan perbuatan jahat dan dosa untuk menjadi manusia baru.

Dengan menimbun lembah dan meratakan gunung itu bermakna untuk memanusiawikan sesama (membantu yang lemah, miskin, dan cacat itu sebagai wujud nyata iman dan kasih Kristus) agar kita menjadi pribadi yang rendah hati.

Sejatinya, dengan rendah hati kita mengosongkan diri, menyediakan hidup yang bersih agar kuasa dan kemuliaan Tuhan nyata.

Mas Redjo