Tuhan Mengangkat Pemimpin

Seorang lelaki bercerita, bahwa ia pernah mengikuti prosesi pemilihan Kepada Desa. Ia harus memiliki uang banyak sebagai biaya seluruh persiapan. Ia sangat menyadari, bahwa dalam kegiatan politik seperti itu, uang yang menjadi raja. Suara pemilih dapat dibeli demi menjadi pemimpin

Lelaki itu ternyata tidak berhasil. Ia sudah mengeluarkan uang banyak, tapi tidak memberinya keuntungan bagi dirinya. Hal ini disebabkan oleh kompetitornya yang memiliki uang lebih banyak. Ia dengan kecewa dan menyesal menerima kenyataan, ia kalah dalam berkompetisi. Ia lebih merasa sakit, karena pemimpin yang terpilih itu adalah seorang yang memakai cara-cara yang curang untuk jadi seorang pemimpin masyarakat.

Apakah pengangkatan seorang pemimpin untuk orang banyak dengan cara seperti ini juga terjadi di dalam Gereja Katolik? Secara prinsipiil tidak ada kontestasi pemilihan atau pengangkatan pemimpin dalam Gereja, misalnya menjadi Pastor Paroki, Uskup, dan Paus, yang memakai cara-cara sipil. Gereja memiliki sistem pemerintahan yang berbeda daripada sebuah negara atau suatu kelompok masyarakat. Cara pemilihan pemimpinnya juga sangat berbeda.

Ada dua unsur yang sangat penting dalam proses pengangkatan seorang pemimpin baik untuk hidup beragama maupun bermasyarakat. Kedua unsur itu ialah pendidikan atau pembinaan dan pengangkatan. Nabi Yesaya mengatakan, bahwa dengan pembinaan, pemimpin baru dalam diri Elyakim terpilih oleh Tuhan, dengan tidak memberi jalan bagi orang lain yang tidak setia di dalam jalan Tuhan untuk jadi pemimpin.

Melalui pendidikan dan pembinaan dalam sekian waktu bersama Yesus, akhirnya ditemukan seorang pemimpin dalam diri Rasul Petrus, yang terpilih dari kelompok 12 Rasul dan banyak murid yang lainnya. Setelah terpilih, mereka itu diangkat atau ditetapkan secara resmi oleh Tuhan, dengan simbol pemberian kunci sebagai legitimasi kekuasaan yang ada pada mereka. Menurut Kitab Suci, kunci itu berguna membuka akses bagi orang-orang yang beriman sampai kepada Tuhan dan mendapatkan tempat bersama dengan Dia.

Tuhan Yesus hendak mengajarkan kita, bahwa seorang pemimpin di dunia ini adalah utusan Tuhan. Bahkan lahirnya demokrasi modern telah membawa sebuah keyakinan bersama, bahwa semua anggota masyarakat mewakili suara Tuhan untuk memilih pemimpinnya. Seorang pemimpin yang menjalankan kehendak Tuhan, ialah dia yang selalu percaya, bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan; semua ada, karena Tuhan dan menuju kepada Tuhan.

“Ya, Tuhan, berkatilah dan penuhilah kami dengan kasih-Mu agar kami selalu setia kepada-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)