Menjadi Besar, karena Melayani dengan Rendah Hati

Dalam zaman digital seperti sekarang ini, kita dikelilingi oleh banyak suara, dari media sosial, influencer, dan berbagai opini publik. Kita bisa dengan mudah tahu yang orang lain pikirkan tentang tokoh-tokoh terkenal, termasuk tentang Yesus. Di tengah semua itu, Yesus tetap mengajukan pertanyaan yang sangat pribadi, “Menurut kamu, siapa Aku ini?”

Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban dari Google atau TikTok, tapi dari hati dan pengalaman pribadi kita bersama-Nya. Dalam Injil, Petrus menjawab dengan iman, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Jawaban ini bukan hasil pengamatan biasa, melainkan berasal dari relasi yang tulus antara Petrus dan Yesus. Karena pengakuan imannya itulah, Yesus memercayakan tanggung jawab besar kepada Petrus. Di mana kunci rumah Daud diberikan kepada orang yang setia, Yesus juga memberikan “kunci Kerajaan Surga” kepada Petrus, sebagai tanda kepercayaan dan misi. 

Surat Paulus kepada Jemaat di Roma mengajak kita merenungkan betapa dalam dan luasnya kebijaksanaan Tuhan. Tidak semua bisa dijelaskan secara logis. Tapi iman bukanlah soal mengerti semuanya, melainkan soal memercayakan diri kepada Allah yang kita kenal.

Dalam dunia yang serba cepat ini, relasi personal dengan Tuhan jadi sumber kekuatan yang sejati dan stabil. Santo Pius X, Paus yang kita kenang sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati, pernah berkata, “Kekudusan itu bukan soal melakukan hal luar biasa, melainkan melakukan hal biasa dengan kasih yang luar biasa.”

Kita dipanggil untuk hidup sebagai murid yang tidak hanya tahu tentang Yesus, tapi juga sungguh mengenal dan mencintai-Nya.

Mari kita menjadikan iman bukan hanya sebagai identitas, melainkan sebagai relasi yang hidup. Ketika kita menjawab pertanyaan Yesus dengan jujur dan penuh iman, kita ikut membangun Gereja-Nya; bukan sekadar bangunan, melainkan persekutuan kasih yang hidup, tangguh, dan penuh harapan.

Tuhan Yesus, tolonglah kami agar semakin mengenal dan mengasihi Engkau dari hari ke hari. Jadikanlah hidup kami sebagai batu hidup dalam membangun Gereja-Mu. Bimbing kami agar tetap setia dan rendah hati dalam menjalani panggilan-Mu. Amin.

Ziarah Batin