Red-Joss.com | Sejak usia 14 tahun saya sudah terpisah dari orangtua demi pendidikan di kota yang berjarak 500-an km dari rumah. Sejak itu komunikasi nyaris terhenti. Telepon kami tak punya. Setahun sekali baru berjumpa, itu pun karena libur sekolah. Dapat berjumpa secara langsung itu jadi kemewahan.
Berkat internet, hampir semua orang dapat saling berkomunikasi, dapat berteman walau virtual. “Teman virtual” adalah sebutan bagi teman di dunia maya. Dengan internet seseorang dapat berjumpa dan berkomunikasi secara real time, berapa pun jauh jarak di antara mereka, bak bertemu secara langsung.
Saya juga mempunyai banyak teman virtual, teman saya dalam dunia maya. Virtual, tetapi dekat. Salah satunya adalah yang seusia dengan saya, di atas 70 tahun. Beliau suka melayani dengan caranya yang khas. Sering menyumbangkan talenta beliau dalam merangkai bunga sebagai wujud bakti nyata bagi gereja. Sepertinya beliau menjalani roh lagu ‘hidup ini adalah kesempatan’. Selagi aku masih kuat…
Persaudaraan kami sangat intens, melibatkan seisi keluarga kami. Berbagi cerita, bertukar kisah, dan saling mendoakan, terutama di saat-saat hidup terasa berat. Salah satu hal istimewa yang masih saya simpan adalah doa yang beliau tulis untukku pada tanggal 11 juli yang lalu:
“Dear God. Thank you so much for having our Brother S in our life. May God shower Your Love to him. We love him always. SM and family.”
Teman yang maya itu nyata bagiku. Begitu pula dengan teman virtual yang lain.
Begitu besar kasih Allah, sehingga menganugerahkan internet ini agar kita mendapat kemudahan untuk saling bersaudara kendati secara virtual.
“Dear Jesus, Mary and Josef. I thank you so much for having Maya and maya’s in my life. I do love them. Shower them always with Your Eternal love.”
Tetap semangat berbagi berkat.
…
Jlitheng

