Ketika Tuhan Dicintai dan Sesama itu Dibenci

“Dalam keadaan sulit, mungkin masih lebih terpuji, jika kita tidak percaya akan Allah, tapi mencintai sesama daripada mengklaim diri sebagai orang beriman dengan membenci dan membunuh sesama demi Allah, dan kita merasa sedang menyenangkan hati-Nya.”

“Jika inilah penghayatan imanmu, maka aku pastikan, bahwa allahmu dan Allahku berbeda.”

Ketika Ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang manakah hukum yang terutama, maka Yesus menjawabnya, bahwa di sana ada dua hukum yang saling menyatu yakni cinta kepada Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

Jawaban Yesus menyadarkan kita akan beberapa kebenaran iman:

    1. Ketika kita mencintai Tuhan maka sadarlah bahwa bukan karena Tuhan sedang kekurangan cinta, melainkan cinta kita jadi ungkapan kerinduan untuk tetap bersatu dengan Tuhan agar kita diselamatkan;
    1. Cinta yang besar kepada Tuhan harus berwujud dalam cinta kepada sesama, siapa pun mereka dan apa pun yang mereka perbuat terhadap kita. Ketika kita berada pada level tertinggi cinta, maka kita hanya tahu mencintai dan mencintai. Santa Teresa dari Calcuta membahasakan ini dengan mengatakan kita harus mencintai sampai terluka. Inilah cinta tulus dari pencinta sejati;
    1. Jika kita mengklaim diri sebagai orang taat beragama, tapi membenci sesama siapa pun mereka, maka kita sedang menghayati iman yang salah, dan pasti tidak dituntun oleh Roh Allah.

Akhirnya sadarlah, bahwa seseorang yang beriman sejati itu selalu menyiapkan ruang-ruang kasih di relung hatinya untuk sesama manusia.

Monsignor Inno Ngutra, Pr