Refleksi tentang Makhluk Manusia:
“Bejana Tanah Liat”

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Sesungguhnya Tuhan tidak mencari bejana emas, tapi bejana
yang rela diisi dengan air kasih.”
(Suara Sang Kearifan)

Kita bangga jadi seorang manusia dengan seribu gelar keunggulannya. Kita mempunyai nama mentereng, aneka gelar kesarjanaan, bahkan kita tenar hingga ke mana-mana. Tapi di hadapan Tuhan kita ini hanya “Bejana Tanah Liat.”

  1. Tiga Buah Kebenaran tentang “Bejana Tanah Liat”

a. Kebenaran pertama: “Manusia itu memang rapuh”

Bukankah Tanah liat itu memang rapuh, mudah retak, serta gampang pecah dan kotor?

Adapun filosofinya: bahwa janganlah sekali-kali kita mau bersikap angkuh. Karena hidup kita pun ibaratnya pasang surut, janji-janji kita mudah diingkari, tapi di sisi lain kita selalu merasa kuat dan bergengsi.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kita”
(2 Korintus 4: 7).

b. Kebenaran kedua: “Kita sedang Dibentuk”

Apakah Tanah liat pernah protes saat ia dibentuk di tangan seorang penjunan? Tidak! Bahkan sekalipun diaduk-aduk, dipukuli, diputar dalam roda, ia tetap tenang dan diam. Tapi hasilnya sungguh, tidaklah main-main. Lihatlah pada sebuah guci indah, piring ceper, dan aneka bejana tanah liat nan cantik.

Adapun filosofinya: Duka kita adalah noda penjunan. Gagal itu adalah air yang membasahi. Ingatlah, Tuhan sedang membentuk Anda, tapi Ia tidak sedang menghukum Anda.

c. Kebenaran ketiga: “Isinya Lebih Penting daripada Bejananya”

Orang sering kali memandang rendah pada sebuah bejana tanah liat, tapi jika di dalamnya berisi “air kehidupan,” maka Raja dan Ratu pun rela untuk meminumnya.

Adapun filosofinya: Sesungguhnya Tuhan tidak mencari bejana emas, tapi Ia mencari bejana yang rela diisi dengan kasih, pengampunan, dan Roh Kudus. Meskipun bejana itu retak, tapi di dalamnya tetap memancarkan ‘Terang’.

  1. Hukum “Bejana Tanah Liat”

a. Janganlah Dibandingkan dengan Bejana Porselen:

Ada pribadi yang tampaknya sempurna, tapi ternyata kosong isinya.

b. Jika Pecah, Kembali ke Penjunan

Jika bejana tanah liat itu pecah, tapi ia masih bisa diremas dan dibentuk kembali.

c. Tujuan Bejana: Untuk Digunakan

Ingatlah sebuah bejana dibuat tidak untuk dipajangkan, tapi untuk menuang. Hidupnya memang untuk menuang air kasih.

  1. Sepotong Doa si Bejana Tanah Liat

“Bapa Penjunan,
Aku ini hanyalah tanah liat di dalam relung jemari-Mu
Aku ini mudah retak, kotor, tapi…
Aku mohon, janganlah campakkan aku
Biarlah diremas dan dibentuk terus lagi, bahkan dibakar dalam panas bara api ujian
Agar aku lebih layak dipakai untuk menyimpan air kasih-Mu”

Kediri, 21 Agustus 2026