Menulis Bengkok pada Garis Lurus

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Aku sendiri akan berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung”
(Yesaya 42: 2)

(Filosofi hidup tentang makhluk manusia yang tidak selalu mau bersikap lurus)

Apakah Garis Lurus dan Bengkok itu?

  • Garis Lurus itu adalah sebuah “tata aturan, kebenaran, dan sebuah tujuan.”
  • Bengkok itu adalah simbol manusia yang menyasar, jatuh bangun, dan terus berputar-putar.
  1. Tiga Buah Makna Filosofis: “Bengkok pada Garis Lurus”

a. Makna pertama: Manusia itu Viator

Adalah realitas, bahwa dalam hidup ini, dunia mengidealkan adanya sebuah garis lurus. Ya, semuanya harus serba lurus (Iman yang lurus, ucapan, dan kerja yang lurus), tapi nyatanya, bahwa hidup ini sering ‘bengkok’. Semisal, jatuh dalam kesalahan, putus dalam kerja, gagal dalam cinta, dan juga jatuh dalam dosa.

Filosofinya: Bukankah Tuhan pun menciptakan manusia dan bukan robot? Dia menciptakan manusia peziarah yang tujuannya harus lewat garis lurus, tapi nyatanya justru lewat proses yang bengkok. Bukankah sungai mengalir ke laut juga lewat jalan yang berliku, menabrak sana-sini, tapi toh akhirnya sampai ke laut juga, bukan? (Jadi, hal yang utama, bahwa Anda harus menuju ke laut, walaupun lewat jalan yang berkelok-kelok).

b. Makna kedua: “Kritik pada Kesempurnaan Palsu”

Memang, sungguh ideal, jika Anda taat azas dengan melintasi jalan lurus. (Keluarga bahagia, usaha lancar, hidup rohani pun ideal), tapi kala dihadang bencana (bengkok), maka air mata ini berderai, lalu kamu pun kecewa.

Filosofinya: Kejujuran

Bengkok pada garis lurus adalah sebuah ‘pengakuan’. (Ya, saya ini tidak sempurna, tapi aku mau berjalan ke arah sana juga).

c. Makna ketiga: “Tangan Tuhan yang Meluruskan”

Bukankah tidak semua benang kusut itu adalah sebuah kerumitan atau kekacauan? Bukankah penyulam pun harus membengkokkan benang, baru dapat menghasilkan selembar sulaman indah?

Filosofinya: Providence

Sebuah garis lurus itu adalah program Tuhan (providentia Dei), tapi nyatanya, bahwa jalan kita toh sering juga bengkok.

Pernahkah Tuhan membuang seutas benang yang bengkok? Tidak! Tapi justru dengan penuh kasih, diluruskan-Nya perlahan-lahan.

  1. Hukum: “Bengkok pada Garis Lurus”

a. Bengkok itu tidak berarti Sesat: Karena sesat itu, jika Anda berbalik arah. Jika bengkok, Anda masih berjalan, tapi tidaklah mulus, karena sering jatuh bangun.

b. Garis Lurus itu Tujuan, Bukan Hukum

Tujuannya dalam konteks ini bukan sebagai hukuman, tapi justru menuntun Anda agar segera kembali ke jalan lurus.

c. Keindahan justru terletak pada Bengkoknya

Bukankah sebatang pohon yang terkuat itu justru batangnya bengkok? Ya, karena itu sebagai akibat sering diterpa badai. Juga bukankah iman yang terdalam itu justru lahir dari luka dan badai?

  1. Refleksi

Jika hari ini garismu masih bengkok dan bolong-bolong, ingatlah, bahwa bukankah kayu salib itu justru juga bengkok. Tapi, lewat cara itulah kamu diselamatkan.

Ingatlah!

Daud, kekasih Tuhan pun pernah bengkok (zinah), Petrus pun pernah tiga kali menyangkal Tuhan, tapi justru ia jadi batu penjuru gereja.

Kediri, 20 Agustus 2026