Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Ada kekayaan bahasa tradisi lisan yang memiliki kualitas sastra yang tinggi. Baik dalam sejarah asal usul, hukum adat, ajaran nilai dan ritual. Yang terjadi dalam komunitas, umumnya dipahami dan dirasakan arti maknanya. Namun, yang menguasai bahasa yang bersifat sastra dan ritual itu tidak banyak. Ada pemangku adat dan pelaksana ritual, juga beberapa pribadi dalam komunitas. Model pewarisannya adalah pengalaman, ketika mendengar dalam berbagai acara adat budaya dan ritual. Rekaman pengalaman itulah menjadi model pewarisan komunitas. Ada beberapa tradisi adat budaya yang memberikan pelajaran dan model pewarisan, seperti padepokan, kelompok seni budaya tradisi dan pendidikan khusus.
Dari pengalaman di komunitas adat budaya asalku, saya mencatat adanya beberapa keprihatinan. Tokoh adat budaya mulai kurang berperan, ritual adat budaya makin jarang dilakukan. Nara sumber yang sepuh makin berkurang, tempat ritual makin ditinggalkan serta lingkungan adat budaya makin berubah. Banyak faktor internal terjadi kemunduran, juga pengaruh luar seperti derasnya globalisasi dan modernisasi. Karena itu, saya melihat adanya kondisi memprihatinkan dalam konteks bahasa sastra dan ritual tersebut. Makin sedikit dikuasai generasi muda dan ada indikasi bisa pudar dan hilang.
Dalam bahasa sastra dan ritual, sejauh yang saya ketahui dari komunitas asalku, ada kekayaan konsep pengetahuan, sejarah asal usul, ajaran nilai dan etika, hukum dan cara pandang hidup, serta pengalaman dan konsep spiritualitas. Yang menarik dan mengagumkan adalah soal dari mana sumber kekayaan bahasa tentang berbagai hal tersebut, di mana terlahir dan hidup dari latar belakang sejarah komunitas yang sangat sederhana. Banyak yang jauh dari akses informasi dan relasi dengan dunia luar. Namun, isi informasi, sastra dan nilainya begitu kaya dan mengagumkan.
Seperti nasib cerita rakyat dan unsur budaya lainnya, maka bahasa sastra dan ritual pun kembali pada komunitas pemiliknya. Sejauh mana para pemangku adat budaya dan generasi pewarisnya merasa baik, berguna dan bernilai. Jika disadari dan dialami sebagai hal luhur yang melekat dengan keberadaan pribadi dan identitas kultural, maka pasti dipelihara dan dilestarikan. Jika tidak lagi bermanfaat dan dihargai, maka pasti punah, karena ditinggalkan komunitas, baik para pemangku, apalagi generasi muda penerus di zaman digital milenial ini. Paling kurang sebagai bahan studi, kiranya ada generasi muda yang peduli dan berminat akan warisan tradisi adat budayanya sendiri. Salah satu kuncinya, adalah mau tahu dan mencintai bahasa ibu – bahasa kampung halaman, termasuk bahasa sastra dan ritualย adatย budayanya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

