Terkurung dalam Penjara Buatan Sendiri

“Ketika Anda memelihara iri hati, maka ia akan mengurung, menyiksa dan perlahan-lahan akan membunuhmu.”

Rasanya Tuan Kebun berlaku tidak adil dan tak berbelas kasihan, karena memberi imbalan yang sama kepada semua pekerja, walaupun masing-masing memiliki waktu kerja yang berbeda. Hal ini, jika kita menilai dari sisi para pekerja. Tapi Tuan Kebun itu adalah seorang yang tetap menepati janjinya kepada setiap pekerja berdasarkan kesepakatan upah kerja.

Faktanya, hal ini kadang terjadi dalam hidup; atas jasa kita, baik di tengah masyarakat atau dalam Gereja, kadang kita tergoda untuk menuntut balas jasa dan hormat dari orang lain. Juga kadang kita melihat keberhasilan orang lain yang mungkin tidak hidup baik seperti kita, malas, dan sombong, tapi tampak mereka dianugerahi berkat yang harusnya kita yang menerimanya.

Perumpamaan dalam Injil itu memberikan beberapa pelajaran penting bagi kita, yakni:

  • 1) Jangan membandingkan diri ini dengan orang lain, baik tentang talenta, harta milik, kedudukan maupun nasib mereka;
  • 2) Jika kita terus menerus membandingkan dengan orang lain, maka iri hati akan jadi mahkota kita. Ketika iri hati menguasai hati dan budi, kita akan merasa hidup ini jadi terkekang, tersiksa, dan bahkan sebenarnya berjalan tertatih-tatih pada kematian;
  • 3) Dalam keadaan apa pun, lebih bijak disyukuri dan berterima kasih kepada Tuhan. Rasa terima kasih dan syukur adalah obat mujarab yang dapat membunuh iri hatimu.

Selalu yakinlah, bahwa Tuhan pasti akan memberi kepada kita upah yang adil, bila kita bekerja di kebun anggurnya tanpa keluhan dan sungutan.

Monsignor Inno Ngutra, Pr