Engkau Bukan Allah

Ada satu anekdot yang tidak asing bagi kita. Sebuah pesawat kecil terbang sangat tinggi. Di dalamnya ada pilot dan tiga penumpang, yaitu satu Pastor tua, satu ahli komputer, dan satu orang anak remaja anggota pramuka. Imam memakai jubah yang sudah tua, siswa itu berpakaian pramuka lengkap, dan ahli komputer dilengkapi dengan semua peralatan teknologi komputer-digital yang mutakhir.
Tiba-tiba pesawat menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada mesinnya. Pilot lalu mengumumkan, bahwa mereka semua harus bersiap untuk menyelamatkan diri, karena sebentar lagi pesawat akan meledak. Pilot menjelaskan, bahwa di dalam pesawat hanya ada tiga parasut. Ia memakai salah satunya lalu pamit dan terjun dengan parasut itu. Yang tinggal adalah dua parasut untuk tiga orang penumpang.
Ahli komputer itu berkata, bahwa ia sangat dibutuhkan oleh dunia. Jika ia meninggal dunia, seluruh operasional industri dan digital akan macet dan membawa kerugian besar kepada umat manusia di seluruh dunia. Ia berseru sambil mengejek: “Pastor, Anda sudah tua. Tak berguna lagi bagimu untuk hidup. Terimalah kenyataan itu. Kau, anak kecil, penampilanmu bagus dengan seragam pramuka, tapi dunia ini tidak bisa hidup melalui kegiatan pramuka.” Setelah itu sang ahli komputer itu langsung terjun dengan parasutnya.
Pastor menjelaskan sesuatu kepada anak pramuka itu. “Begini, Nak, tidak usah kuatir. Tuhan ada di pihak kita. Lelaki ahli komputer, karena terlalu sombong dengan merendahkan semua orang, ia lupa dirinya. Ia salah mengambil ransel saya karena ia berpikir, bahwa itu adalah parasut yang diperlukannya. Sekarang segera ambil parasut yang ada: satu untukmu dan satu untuk saya, dan marilah kita terjun bersama-sama.
Kesombongan dan kebutaan rohani pada diri ahli komputer itu menggarisbawahi satu prinsip, yaitu “Engkau bukan Allah.” Sehebat, sepandai, segenius apa pun manusia itu ia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Karena ia masih tetap manusia. Ia bukan Tuhan Allah. Sikap manusia yang menuhankan dirinya atau benda atau peristiwa dunia ini, ia sebenarnya melakukan pemujaan berhala.
Nubuat Yehezkiel sangat tegas akan prinsip ini, ketika ia mengingatkan perilaku orang-orang Israel yang sombong dengan menyamakan dirinya dengan Allah.
Salah satu sikap sombong yang ditegaskan oleh Yesus ialah, tidak melihat kekurangan pada diri sendiri, tapi lebih melihat dan mengutuk sesama, karena kelemahan mereka. Nasihatnya tetap sama, yaitu: Engkau bukan Allah.
“Ya, Allah, jadikanlah kami rendah hati seperti yang Engkau kehendaki. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.