Maria dan Pengharapan Abadi

Seorang Ibu pernah berkata saat anaknya sukses, “Rasanya semua sakit dan pengorbanan waktu dulu langsung hilang melihat dia bahagia.” Kalimat sederhana ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa cinta sejati selalu melahirkan pengharapan, dan pengorbanan itu tidak pernah sia-sia.

Kita merayakan kepenuhan cinta dan pengharapan itu dalam diri Maria. Ia yang setia mengikuti kehendak Allah dan menderita bersama Putranya di bawah salib, kini dimuliakan: diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya. Hal ini juga pengharapan kita, bahwa dalam Kristus, maut itu bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal.

Dalam Injil Lukas, Maria menyanyikan Magnificat, pujian dari hati seorang yang percaya, bahwa Allah berpihak pada yang rendah hati. Maria yang digambarkan sebagai perempuan berselubung matahari; tanda, bahwa Allah melindungi dan meninggikan umat-Nya yang setia. Paulus menegaskan, “Kristus telah bangkit sebagai yang sulung dari antara orang mati,” dan Maria adalah buah pertama karya penebusan yang telah tuntas. Maria, sebagai manusia yang pertama-tama sepenuhnya menanggapi rahmat Allah, menerima janji kebangkitan lebih dahulu, sebagai gambaran Gereja dan harapan bagi kita semua. Seperti Maria, kita dipanggil untuk mengandalkan Allah dan setia dalam segala keadaan. Santa Thérèse de Lisieux berkata, “Aku tidak takut akan kematian, karena aku tahu seorang Ibu menungguku di Surga.” Mari menapaki jalan iman ini dengan sukacita dan harapan yang teguh.

Bunda Maria, tuntunlah kami untuk percaya sepenuhnya pada janji Allah seperti engkau. Dampingilah kami dalam peziarahan menuju kemuliaan abadi. Amin.

Ziarah Batin