Wajah-wajah Rapuh

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Kala dihadang duka, kerapuhan manusia pun akan terlukis pada wajah mereka.”
(Suara Kemanusiaan)

Manusia itu adalah ciptaan Tuhan yang paling unik, istimewa, dan mulia. Ia dikaruniai akal dan budi sempurna, jika dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya.

Namun demikian, keistimewaan manusia itu sangat terbatas. Karena pada dasarnya, manusia sebagai makhluk yang lemah dan terbatas juga.

Errare Humanum est

Orang Latin memiliki sebuah adagium yang mau membenarkan, bahwa manusia itu memiliki keterbatasan. Hal ini terekspresi lewat sebuah adagium ‘errare humanum est’, (manusia itu sebagai makhluk yang terbatas), bahkan kelemahan manusia itu di negeri kita pun diungkapkan lewat sebuah ungkapan nyentrik, “tiada gading yang tak retak,” artinya manusia memiliki cacat dan cela juga.

Manusia secara rohani dilukiskan sebagai ‘imago dei,’ artinya sebagai ‘gambar dan rupa Allah.’ Karena bukankah ia tercipta dan datang dari Allah dan bahkan kelak akan kembali kepada Allah?

Tulisan reflektif dan filosofis ini, justru mau mendeskripsikan, bahwa ‘betapa kuyu dan rapuhnya ekspresi wajah manusia’ itu kala dilanda duka nestapa.

Kerapuhan sebagai sebuah ekpresi dari keterbatasannya itu akan tergambar transparan lewat air muka dan sayu bola matanya.

Realitas pahit pedih itu biasanya tidak sanggup disembunyikannya, karena toh banyak orang pun akan menyimpulkannya demikian.

Jiwa dan Badan itu bukan Dualisme

Kesanggupan sesama manusia untuk mampu menyimpulkan kondisi duka itu adalah sebuah kepekaan rohaniah yang dimiliki oleh semua manusia. Jadi, sesungguhnya Anda tidak sanggup untuk membohonginya. Hal itu mau membenarkan, bahwa sejatinya, antara jiwa dan badan manusia itu merupakan satu kesatuan yang utuh total dan bukan sebagai sebuah dualisme.

Mata itu Pelita Tubuh

Bola-bola mata manusia itu adalah sarana yang paling otentik dan jujur yang mampu mengekspresikan sebuah kondisi riil yang terkandung dalam pikiran serta perasaan manusia.

Sepasang mata manusia (bola-bola mata) itu adalah sebagai sebuah pelita penerang bagi tubuh jasmani manusia. Bukankah ekspresi bola-bola mata manusia itu adalah sebagai pelita kejujuran bagi seorang anak manusia sejati?

Bukankah ‘matamu’ adalah simbol dari ‘matahari mikro’ yang berada di dalam tubuhmu sebagai dunia mikro? Hal ini akan berdampak, bahwa seluruh perasaan manusia akan terekpresikan lewat gerak-gerik bola-bola mata manusia.

Di antara Bola Mataku dan Bola Matamu

Jika, Anda sungguh-sungguh mau bersimpati dan berempati kepada seseorang, ketahuilah, bahwa Anda mampu untuk menangkap sinyal terdalam dari perasaan sejati dari dalam diri seseorang. Itulah yang dinamakan sebuah kepekaan.

Jadi, kepekaan itu adalah sebuah ekspresi dari kejujuran nurani seorang anak manusia. Karena bukankah lewat sikap kepekaan itulah maka seseorang akan sungguh jadi seorang manusia sejati?

“Di dalam atau lewat bola-bola matamu, aku telah sanggup untuk melihat dan menemukan diriku, dan di dalam bola-bolaku, engkau pun telah menemukan dirimu.”

Penutup

“Wahai sang anak manusia, sesungguhnya, siapakah engkau?”

Kediri, 15 Agustus 2O26