Kidung Maria

“Maria diangkat ke Surga bukan hanya tentang kemuliaannya, melainkan tentang harapan dan tujuan hidup kita dalam Kristus.”
Bapa Yang Maharahim,
Surga bersukacita, karena perempuan yang dahulu mengandung Putra-Mu, kini berdiri di hadapan-Mu, tubuh dan jiwa, dalam kemuliaan.
Dalam Kitab Wahyu, Tabut Perjanjian-Mu tampak di Surga, disusul dengan penglihatan tentang seorang perempuan yang berselubungkan matahari dan bermahkotakan dua belas bintang. Dalam diri Maria, kami melihat gambaran Tabut Perjanjian yang baru: ia tidak membawa loh batu, tapi Sang Sabda yang hidup, Yesus, Putra-Mu.
Mazmur pun menggambarkannya sebagai Ratu yang berdiri di sebelah kanan Raja, dalam kemuliaan.
Hari raya Maria diangkat ke Surga ini bukan hanya tentang kemuliaan Maria. Melainkan juga tentang harapan kami.
St. Paulus mengingatkan, bahwa Kristus adalah buah sulung dari mereka yang telah meninggal. Karena Kristus telah mengalahkan maut, dan maut tidak akan jadi kata terakhir atas hidup kami. Maria yang diangkat ke Surga jadi tanda nyata, bahwa kemenangan Kristus atas maut sungguh membawa kita kepada kehidupan yang kekal.
Sebelum Maria mencapai kemuliaan itu, Injil menunjukkan kepadanya yang bergegas menuju rumah Elisabet. Ia membawa Yesus dalam dirinya, membawa sukacita, berkat, dan kehidupan baru.
Dalam Magnificat, Maria menyatakan hatinya:
“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira, karena Allah, Juru Selamatku.”
Bapa, ajarlah aku menyanyikan Magnificat itu dalam hidupku. Ketika aku mulai meninggikan diri, rendahkanlah hatiku. Aku merasa kosong, penuhilah aku dengan rahmat-Mu. Seseorang membutuhkan pertolongan, gerakkanlah aku untuk datang kepadanya. Juga ketika hidup ini terasa berat, arahkanlah pandanganku kepada kemuliaan yang Engkau janjikan.
Bapa, melalui Maria, Engkau memperlihatkan kepada kami, bahwa Surga bukan sekadar impian yang jauh. Surga adalah tujuan yang Engkau siapkan bagi mereka yang tetap tinggal dalam Kristus.
Terima kasih, Yesus, karena memberikan Maria kepada kami sebagai Ibu, Ratu, pendoa bagi kami, dan tanda pengharapan.
Semoga Magnificat jadi lagu hidup kami. Teladan Maria membuat kami semakin setia mengikuti-Mu. Semoga suatu hari, karena kerahiman-Mu, kami mengambil bagian dalam kepenuhan hidup dan kemuliaan-Mu.
“Jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bergembira, karena Allah, Juru Selamatku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.