Tradisi Lisan Merana Terlunta
Mosaik Serpihan Kelana -15
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Kudengar kisah cerita para pendahulu
terpatri dalam ragam sesajen ritual adat budaya
tentang suka duka pengalaman kehidupan
Kulihat warisan tradisi terpahat pada sarana sakral sujud sembah
Para leluhur melukis makna kelana ziarah
apa dan siapa manusia dan jagat raya
meskipun diteruskan anak cucu pewaris generasi
Entah karena hormat dan cinta pada mereka
Entah karena menyadari dan memahami makna
Entah telah diubah jadi seremoni kreasi zaman
Sepertinya serpihan angin yang bisa menjawabnya
dan puing nostalgia yang mampu mengatakannya
Serpihan yang terlunta itu adalah jejak masa lalu
yang kebanyakan diturunkan dengan pengalaman dan tutur lisan
maka bisa menjelma dalam aneka warna sosok wajah dan makna
Puing-puing yang merana itu
adalah kisah cerita para leluhur
dalam sambungan desah nafas generasi
dalam aliran desir darah anak cucu
Entah masih bisa dihargai maknanya
Entah masih berenergi bagi langkah ziarah kaum muda
Entah jadi nostalgia yang nasibnya galau terlunta
Karena setiap zaman ada kisah ceritanya
Setiap generasi mempunyai rindu damba dan kreasinya
Roda zaman terus berputar
melukis warna-warni kehidupan insani yang mengejar nafas
Ruang dan waktu terus merajut misteri bagi setiap pribadi
agar bisa temukan jawaban diri dalam pengalaman paradoksnya
Kemarin perih datang dalam desah nafas
Warisan masa lalu mengalir dalam darah
Namunโฆ
fakta zaman selalu datang dengan sosok wajah baru
dinamika perubahan hadirkan hari ini berbeda dari kemarin dan siapkan mimpi pelangi esok nanti
Ada gugatan mengiris mata nalar
tentang semua warisan kisah lampau dan kemarin
agar bisa berlanjut dan lestari
Ada tagihan menikam telapak kaki dan tangan
untuk terus merajut makna hari ini
dengan warisan tradisi para pendahulu
demi mengukir besok yang diharapkan
Adakah misteri yang merangkul kemarin, hari ini dan esok
pada jejak mosaik kelana insani
Nasib tradisi lisan seperti hidup segan mati tak enggan
Warisan adat budaya para leluhur nasibnya galau merana
Zaman terus berubah sosok wajah
dari tradisi lisan hingga literasi digital
Peradaban bergerak dari kelana pengembara menjadi zaman milenial diwarnai ilmu dan teknologi
Ada desah nafas makna martabat masih berlanjut
dari generasi masa lalu ke masa depan
Ada desir darah hakikat kemanusiaan terus mengalir lintas generasi
Tetapiโฆ
sosok wajah pribadi dan zaman terus bersemi
ada kreasi dan inovasi terjadi
untuk memberi makna pengalaman dalam ruang dan waktu berbeda
Apakah akan kembali berdiri tradisi lisan di masa depan
Mungkinkah mengabaikan warisan para leluhur adalah bukti kemajuan hakiki peradaban insani
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.