Kesetiaan yang Berakar dalam Kasih Allah

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19: 6).

Ketika orang Farisi mencobai Yesus tentang perceraian, mereka memandang perkawinan hanya sebagai persoalan hukum. Tapi Yesus menegaskan, bahwa kasih antara pria dan wanita itu bukan sekadar kontrak, melainkan perjanjian kasih yang berasal dari Allah sendiri.

Yesus juga menegaskan, bahwa perceraian itu bukanlah kehendak Allah, melainkan akibat ketegaran hati manusia. Ajaran ini memang tidak mudah diterima, sebab kesetiaan menuntut lebih dari sekadar kemampuan manusiawi. Baik dalam panggilan perkawinan maupun hidup selibat demi Kerajaan Allah, semuanya berakar pada rahmat Tuhan. Kesetiaan bukan pertama-tama soal kekuatan kita, melainkan keterbukaan kita pada anugerah-Nya.

Kita mengenang Santo Maximilian Kolbe, Imam Fransiskan yang jadi martir kasih. Ia menyerahkan hidupnya demi sesama di kamp konsentrasi Nazi. Dalam dirinya, kita melihat kesetiaan yang tidak berhenti pada kata-kata, tapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang penuh pengorbanan. Kasih sejati memang menuntut pengorbanan, dan di sanalah Allah berkarya serta mempersatukan kita dengan diri-Nya.

Sr. Mary Gabriella, P. Karm

Jumat, 14 Agustus 2026
Yeh 16: 1-15.60.63 atau Yeh 16: 59-63 MT Yes 12: 2-6 Mat 19: 3-12

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com