Lepaskanlah Dirimu dari Keinginan untuk Balas Dendam

“Hati, pikiran, dan jiwa ini akan tetap terikat oleh keinginan untuk balas dendam, bila pengampunan kita bersyarat dan berbatas. Maka mengampuni adalah satu-satunya jalan untuk terbebas dari ikatan balas dendam itu.”
Kita sering menemukan dan mengalami, bahwa di satu pihak ada orang yang mencoba untuk mengampuni tanpa syarat dan batas, tapi di lain pihak yang diampuni itu bukannya bertobat dan berubah, melainkan terus mengulangi kesalahan dan dosa yang mirip bahkan sama. Lalu kita bertanya, “Apakah kita harus berhenti, jika yang diampuni itu tidak mau bertobat dan berubah?”
Yesus memberi jawabannya, ketika Petrus bertanya tentang berapa kali ia harus mengampuni, jika saudara itu bersalah kepadanya. Kata Yesus, “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus mengajarkan, bahwa pengampunan harus terberi tanpa batas dan syarat, kendatipun yang diampuni belum bertobat dan berubah.
Kita disadarkan, bahwa:
- 1) Allah tidak pernah bosan mengampuni, walaupun kita terus melakukan kesalahan dan dosa. Maka atas cara itu pun kita harus melakukan kepada sesama kita;
- 2) Mengampuni adalah atribut orang kuat, bukan pribadi lemah. Maka ampunilah agar orang lain tahu, bahwa Anda adalah pribadi yang kuat tidak tergoyahkan oleh gelombang emosi sesaat;
- 3) Manfaat utama dari kerelaan untuk mengampuni adalah terbebasnya hati, pikiran, dan jiwa ini dari keinginan untuk balas dendam. Maka ampunilah bukan pertama-tama untuk mereka yang melukaimu, melainkan untuk dirimu yang terluka agar mengalami kesembuhan.
Sadarilah, bahwa Tuhan pasti bangga pada kita, ketika kita mampu mengampuni sesama yang bersalah. Karena saat itulah kita berlaku seperti Diri-Nya yang tidak bosan mengampuni kita.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.