Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Kehidupan komunitas adat budaya, umumnya belatar belakang tradisi lisan “oral tradition”. Salah satunya dalam bentuk cerita rakyat. Isi cerita rakyat bermacam-macam, dan menjadi bentuk komunikasi mewariskan berbagai informasi. Setiap komunitas memliki warna-warni cerita rakyat yang berkembang seiring waktu dan kepentingan. Ada beberapa komunitas adat budaya memiliki tradisi tulisan “literer tradition”.
Dalam cerita rakyat, jika dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi pengetahuan di sekolah, yang bercorak tradisi tulisan dari budaya Barat, maka ada banyak jenisnya. Misalnya dongeng, fabel, mitologi, mantra, sastra dan lainnya. Khasanah pengetahuan, sejarah asal usul, konsep berpikir, nilai serta ajaran kearifan dan spiritualitas ada dalam cerita rakyat. Bahasa yang digunakan pun ada tingkatannya: bahasa sehari-hari, bahasa formal, dan bahasa ritual.
Ketika masuknya tradisi literer atau tulisan, serta kemajuan IPTEK dengan media komunikasi digital, maka komunitas adat budaya lokal mendapat tambahan informasi yang berbeda metode. Dalam genggaman tangan, banjir informasi bisa didapatkan melalui gadget. Cara penyajiannya pun mungkin lebih menarik dan mempesona. Ada banyak hal baru didapatkan, dan saat yang sama terjadi pergeseran minat dan sikap terhadap cerita rakyat dalam komunitas.
Ada upaya mengubah cerita rakyat dengan saran komunikasi digital dan penulisan dalam buku. Namun, proses ini bervariasi dalam setiap komunitas. Banyak faktor ikut mempengaruhi upaya literasi ceritera rakyat. Soal minat dan ketrampilan, juga hal-hal kepentingan lainnya, baik dari dalam komunitas maupun dari pihak luar. Pada titik kepentingan, maka soal cerita rakyat ini pertama-tama berkaitan dengan komunitas adat budaya sebagai pemiliknya. Sejauh mana diperlukan dan memberi manfaat. Sering cerita rakyat seperti itu kalah bersaing dengan tawaran informasi dari medsos, dengan segala metode dan kekuatannya.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

