Cukup

“My heart finally said enough is enough.” -Rio, Scj
Sambil menikmati kopi pagi ini, saya melihat induk kutilang memberi makan dua anaknya. Yang satu menolak, mungkin karena sudah cukup kenyang. Tapi yang satunya terus meminta, bahkan saat paruhnya sudah penuh. Sampai akhirnya anak burung kutilang yang rakus itu ngap-ngap tidak bisa nafas dan terjatuh.
Pesan sederhana, sedikit dari kita yang mempunyai keutamaan cukup. Kalau bisa, ya lebih, lebih, dan lebih. Punya iPhone 11, pingin 17. Punya motor pingin mobil. Istri sudah capek masakin telur dan sayur kangkung, pingin daging dan capcai. Sudah mempunyai gaji cukup, pingin rezeki lebih. Kapan kita ini merasa cukup? Bukankah serakah itu menyiksa, sebaliknya dengan mencukupkan diri membuat hati bersyukur dan bahagia.
Orang bijak itu selalu merasa berkecukupan di saat kekurangan. Orang susah nan serakah itu akan selalu merasa kurang, meskipun berkelimpahan. Cukup itu membuat hati damai dan bahagia. Ingat saat hidup memberi rasa kekurangan, di situlah arti sebuah kesederhanaan sedang diajarkan. Saat hidup memberi kita kelimpahan dan kemewahan di situlah rasa syukur kembali diingatkan.
Jadilah orang hebat yang bisa menjadikan keduanya kesempatan. Kesempatan untuk bersyukur atas anugerah rezeki. Kesempatan untuk tekun berusaha, bekerja, berdoa, dan berjuang mengambil setiap peluang. Kesempatan untuk jadi penyalur berkat. Karena menerima itu berkah, berbagi itu anugerah. “Enough is enough.“
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.