Tiga Huruf

“Yang kotor kadang jadi berkat.” -Rio, Scj
Sambil menikmati kopi, terlihat di bawah pohon manggis tersusun rapi tumpukan karung berisi ‘kohe’ alias kotoran hewan. Yang terbuang itu justru menyuburkan; yang dihindari, justru jadi sumber sukacita di hati. Itulah ‘kohe’, pupuk organik dari kotoran hewan.
Sejenak merenung, kita bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah dengan cucuran keringat, pada akhirnya kita buang. Yang kita makan, enak, nikmat, lezat pun berakhir di pembuangan. Semua yang masuk mulut, makanan, dan minuman, baik murah atau mahal tetap saja berakhir di pembuangan. Kadang kita bilang jijik saat melihat kotoran. Bahkan perut mual dan muntah melihat kotoran. Yang kotor itu tidak selamanya terbuang sia-sia. Kadang jadi awal berkat.
Sering pula yang terbuang jadi makian. Makian yang menjatuhkan dan menghina orang. Kadang pula yang kotor itu najis untuk disentuh dan dipegang. Tiga huruf ini kadang menjijikan. Bukankah yang terbuang jadi peluang untuk menumbuhkan, menyuburkan, dan jadi sumber rezeki.
Yang terbuang memang bau, sering kita menghindar, tidak mau mendekat, apalagi menyentuh. Bukankah kadang yang terbuang itu jadi sumber berkat yang menyejukkan dan semerbak harum mewangi. Itulah lingkaran kehidupan. Tidak selamanya yang kotor, bau, dan dibuang itu tidak berguna dan bermanfaat. Justru sebaliknya kadang sumber luar biasa mendapatkan berkat. Tidak selamanya yang terlihat enak, wangi, lezat itu tetap selamanya. Nyatanya akhir dari semua itu tetap sama di pembuangan dengan nama tiga huruf.
Itulah kenapa Paulus berkata “Di mana dosa bertambah, Rahmat Tuhan melimpah.” Bukan berarti hidup kita yang kotor, lusuh, Kumal, sobek oleh dosa pantas Tuhan buang. Melainkan justru sebaliknya Tuhan mengangkat kita jadi berharga. Yang kotor jadi sumber berkat untuk berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.