Jangan Padamkan Lampu Suarmu

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lampu suarmu adalah ekspresi isi jiwamu yang bersinar”
(Didaktika Hidup Sejati)
Kisah Lampu Mercusuar yang Padam
Ayah dari seorang pelaut yang bekerja di kapal itu bertugas di mencusuar. Ia risau menantikan putranya yang seharusnya sudah pulang.
Di suatu malam ada badai dasyat. Saat itu, sang Ayah tertidur dan lampu suar pun padam. Ketika ia terbangun, dilihatnya ada sebuah kapan karam. Ia bergegas turun dan ingin melihat siapakah yang masih hidup?
Ternyata, tubuh pertama yang dilihatnya adalah ‘putranya’ sendiri. Hal itu membawa dukacita yang sangat besar baginya. Karena ia bahkan telah berhari-hari menanti kepulangan putranya setelah tiga tahun itu.
Ketika kian dekat di rumahnya, anak itu justru telah binasa, karena “sang Ayah yang telah membiarkan lampu mercusuarnya padam.”
(D. L. Moody)
“Orang Buta yang Membawa Lentera”
Kado Istimewa buat Ayah dan Bunda Sejati
Tidak jarang, di zaman kita ini, banyak orangtua yang bahkan dengan sengaja mau membiarkan ‘lampu mercusuar’ mereka padam. Mereka sering kali juga keliru memaknakan arti pentingnya pendidikan yang sejati bagi anak-anaknya.
Mereka tidak jarang, justru turut terjebak dengan gaya duniawi dengan membusungkan dada angkuhnya, bahwa mereka telah sempurna mendidik dan mengasuh anak-anak mereka.
Padahal spirit pendidikan sejati itu, yang pertama dan utama, justru lewat proses penanaman “kebutuhan spiritual dan kerohanian,” berupa: suri teladan kasih, menanamkan firman Tuhan, dan bersaksi tentang kebenaran sejati di hadapan para putra-putri mereka.
Jangan Memadamkan Lampu Mercusuarmu!
Tragis, ya, sungguhlah tragis, jika kemalangan di dalam keluarga, “hancurnya jiwa putra dan putri” mereka, justru karena kelalaian para orangtua, yang bahkan dengan sengaja mematikan lampu mercusuar dalam hati anak-anak mereka.
Vitalnya Asupan Rohani bagi Anak-anak
Anak-anak kita sangat membutuhkan asupan, berupa santapan rohani, semisal, berdoa bersama, membacakan ayat-ayat Kitab Suci, dan memberikan nasihat serta bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Tidak jarang pula permasalahan di dalam keluarga itu justru ditimbulkan, karena kelalaian para orangtua, yang salah memaknakan, arti dan proses pendidikan yang sejati bagi anak-anak mereka.
Nasihat dari Tuhan
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga,” itulah ucapan Yesus Kristus.
Ya, bawalah anak-anak kita kepada Tuhan. Janganlah sekali-kali membiarkan jiwa mereka merana dan bahkan mati karena kelalaian para orangtua. Utamakanlah pendidikan kerohanian bagi pertumbuhan jiwa suci mereka. Hindarkan gengsi dan salah tingkah dari para orangtua dalam mendidik.
Tanggung Jawab Terbesar
Tanggung jawab terbesar dan terberat dari para orangtua bagi para putra-putri mereka adalah, bagaimana mereka “membantu mengisi jiwa anak-anak itu agar dapat bertumbuh dan berkembang di dalam nama Tuhan!”
Bukankah Anda dan saya adalah orangtua, sebagai penjaga lampu mercusuar yang paling setia?
Semoga lewat kearifan hidup dan suri teladan handal dari para orangtua, maka tidak seorang anak pun yang secara rohani akan “mati terkapar.”
Amanat Kearifan
“Parentes Optimi, Custodes Lucis Phari.”
“Orangtua Terhebat adalah Penjaga Cahaya Mercusuar.”
Kediri, 9 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.