Iman Sebesar Biji Sesawi

Adalah fakta, setelah sekian waktu mengikuti Sang Guru, Yesus Kristus, terbukti para Rasul tidak dapat menyelesaikan suatu masalah yang mereka hadapi. Orang yang sakit itu tidak dapat mereka sembuhkan dan yang kerasukan roh jahat itu tidak dapat mereka bebaskan. Mereka menyadari ada yang tidak beres dengan iman mereka, tapi tidak tahu persisnya.
Yesus Kristus menemukan, bahwa yang kurang pada mereka ialah kekuatan, kualitas, dan inti iman itu, meski mereka hidup bersama-Nya. Iman itu diumpamakan sebesar biji sesawi, meski kecil, tapi berisi, berkualitas, berkekuatan dan dikaruniai untuk tumbuh jadi besar. Potensi yang sedemikian besar itu mampu melakukan yang tidak mungkin. Dengan kekuatan itu, gunung juga dapat diperintahkan untuk berpindah tempatnya.
Konkretnya, iman sebesar biji sesawi itu seperti apa?
Aspek paling inti ialah di dalam diri seorang beriman, Tuhan adalah penentu dan penggeraknya. Hal ini mengikuti yang dikatakan oleh Santo Paulus, bahwa hidupnya adalah bukan dirinya sendiri, tapi Yesus Kristus yang hidup dalam dirinya. Misalnya Anda diminta oleh teman untuk membantu meringankan sakitnya. Anda berkeyakinan, bahwa Tuhan yang akan berbuat semuanya. Anda berdoa dan memberikan segala perhatian untuk membantunya, tapi Tuhan tetap nomor satu yang diberikan ruang atau kesempatan untuk melakukan bagian-Nya.
Jika hanya kemampuan manusia yang diandalkan, akibatnya orang jadi cepat malas, bosan, marah dan menyerah. Mungkin Tuhan tidak diberikan ruang dan kesempatan untuk melakukan yang jadi bagian-Nya. Akhirnya kita mengeluh seperti para Rasul, yaitu tidak bisa menyembuhkan atau menyelesaikan persoalan sendiri. Mungkin dari dalam keheningan Tuhan hendak berbisik, kata-Nya, “Imanmu tidak kuat. Engkau tidak melibatkan Aku.”
Aspek berikutnya yang menandakan iman sebesar biji sesawi, ialah kesadaran dan kecintaan untuk mempertahankan iman yang sudah tumbuh dalam diri kita. Meski kecil seperti biji sesawi, godaan untuk meremehkan atau lalai merawatnya harus dapat dikalahkan.
Pada perayaan Santo Dominikus, kita dapat meneladani ketekunan panggilannya yang tanpa kenal lelah untuk mengambil bagian Sabda Tuhan dalam hidup manusia. Yang dilakukannya itu adalah sama dengan Nabi Habakuk yang mengatakan, bahwa iman adalah alasan satu-satunya bagi kita untuk hidup dalam kebenaran. Hanya dengan iman kita dapat bertahan sampai akhir.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus. Bunda-Mu dan juga Bunda kami, Santa Perawan Maria jadi teladan bagi iman kami sehingga jadi seperti biji sesawi yang sangat berguna. Tuntunlah kami untuk selalu meneladani iman Bunda Maria. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.