Pada Sekeping Wajah

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuhan tidak melihat wajahmu, tapi dunia mengenal dan menilaimu dari ekspresi sekeping wajahmu. Maka, jadikan wajahmu sebagai sebuah alasan agar orang-orang pun bisa mengingat Tuhan.”
(Para Sufi)
“Wajahmu, Wajahku, Wajah Kita” adalah seutas ‘kanvas’ yang jujur, tulus, dan otentik.
I. Dari Sudut Antropologi: Wajah adalah Peta Peradaban
Bukankah sejak zaman purba (manusia gua), hingga kini, di zaman kemasan teknologi canggih, pun ‘sekeping wajah’ adalah tanda pengenal yang senantiasa aktual. Dari wajah lahirlah segurat senyum tipis sebagai bahasa isyarat dari rasa aman, atau di saat alis mata ini mulai naik, itulah isyarat untuk berwaspada, dan jika bibir seorang pun bergetar, itulah isyarat, bahwa adanya suatu bahaya.
Sekeping Wajah Menyimpan Tiga Lapisan Sejarah!
a. Lapisan Tanah: Lapisan ini terekspresi lewat garis-garis halus di wajah letih, keriput yang menyiratkan duka, dan bekas luka, yang mengingatkan kita akan beban hidup, ya, itulah yang disebut ‘peta’ hidup manusia.
b. Lapisan Suku: Aku berambut keriting, hitam pekat, aku bermata bulat, tapi kamu bermata sipit, dan berkulit kuning langsat. Oh ya, bentuk hidungmu mancung. Itulah identitas sebagai kekhasan manusia.
c. Lapisan Ritual: Dari balik sebuah topeng manusia pun mulai bertindak. Ada orang yang bertato, wajahnya dicoret, dan dirias, agar lebih indah. Padahal, di zaman purba pun tindakan itu sudah dibuat sebagai persiapan perang. Tapi maknanya masih sama juga di zaman kini, walaupun sudah berbeda tujuannya. Bukankah kita merias wajah sebagai persiapan ‘perang’ dalam resepsi pesta, misalnya. Ya, hal itu bermakna, bahwa hingga kini kita masih juga bertopeng. Secara Antropologis, dilukiskan, jika Anda menghancurkan patung, maka peradaban kita akan hilang. Jika menghancurkan wajah dalam selembar foto, maka sebuah kenangan itu akan hilang. Mengapa? Ya, karena sekeping wajah itu adalah bukti, bahwa kita pernah bersama.
II. Sudut Psikologis: Wajah adalah Cermin Jiwa
“Micro Expression” wajah kita akan ekpresikan kecil dari apa saja dari perasaan kita.
Dan saudara, pada sekeping wajah itu pun berisi:
- Mata: Si jendela jiwa serta niat-niat kita.
- Mulut: Sebuah pintu pilihan. Apakah dia ganas ibarat pedang bermata dua ataukah berkhasita sebagai obat penenang?
- Kening: Inilah si papan beban. Di sana pun akan tampak bahwa siapak Anda itu? Ya, kamu itu seorang pekerjaan keras, hal itu akan terbaca pada garis-garis wajahmu.
Maka, di kala Anda capek, maka wajah Anda pun tampak tua, ataukah wajah yang kuat serta palsu? (Asalkan Anda tak sudi melupakan wajah Anda sendiri). (Dalam psikologi pun dikisahkan bahwa “sembuhkan dulu aura wajahmu di depan sekeping cermin. Jika Anda sungguh jujur, maka cermin itu pun tak akan retak).
III. Sudut Filosofi: Wajah adalah Amanah yang Sementara
Dalam ilmu filsafat dan agama, disepakati bahwa “wajah itu adalah sebuah titipan yang paling mahal.”
Tiga Buah Kebenaran dari “Sekeping Wajah”
a. Fana: Wajah kita akan memancarkan kefanaan, jika melihat seonggok tengkorak, karena itulah sebuah bukti kefanaan.
b. Cermin: Wajahmu adalah sebuah cermin. Siapa dan bagaimanakah kondisi psikologismu, pun akan tercermin pada wajahmu. (Wajah cemberut, tersenyum, masam), adalah ekspresi isi jiwamu.
c. Surat: Wajahmu adalah selembar surat yang Anda layangkan kepada dunia. Apakah isi surat wajahmu? Apakah rahmat ataukah murka? Kebaikan ataukah bala bencana? Saudara, bukankah di setiap saat dan setiap hari, sesamamu selalu membaca surat wajahmu?
Bahkan para Sufi pun mengatakan bahwa “Tuhan tidak melihat wajahmu, tapi dunia mengenal dan menilai Anda, justru lewat ekspresi sekeping wajahmu. Maka, jadikan wajahmu sebagai alasan, agar orang-orang pun bisa mengingat wajah Tuhan.”
Penutup: Jadi, harus diapakan “sekeping wajah” ini?
Ya, sekeping wajah akan mengingatkan bahwa “apa yang diingat orang pertama kali dan yang diingat orang terakhir kali” adalah:
a. Bersihkan wajahmu dari kesombongan serta dengki.
b. Gunakan wajahmu untuk tersenyum, agar dapat menenangkan dunia.
c. Ikhlaskan wajahmu, karena di suatu hari nanti, ia pun akan menjadi tua dan pucat. Dan ketahuilah seutas kafan pun akan ditutupkan di wajahmu untuk selamanya.
“Janganlah mengejar wajah semu, tapi kejarlah wajah yang tenang dan bercahaya.”
“Suatu hari nanti, yang tertinggal dan tersisa cumalah sekeping wajah yang apa adanya!”
Kediri, 8 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.