Jika Hidup ini Bisa Ditukar

Pertukaran barang di zaman dahulu itu terjadi dengan sistem barter. Misalnya pisang dibawa dari gunung ditukar dengan ikan dari pantai. Zaman telah berubah dan sistem pertukaran ikut berubah, sehingga istilahnya bukan lagi tukar menukar barang, tapi membeli barang. Kita memakai uang untuk membeli barang yang dijual di pasar, toko, dan pusat perbelanjaan.
Apakah hidup seseorang bisa ditukar atau dibeli mengikuti cara seperti ini? Misalnya, seseorang pergi ke seorang pemegang uang, lalu ia diambil oleh orang kaya itu dan sejumlah uang berpindah tangan ke keluarga orang yang dibeli. Mungkin bisa saja terjadi, tapi kejadian itu dapat digolongkan sebagai suatu tindakan tidak normal, bahkan kriminalitas.
Pertukaran jenis ini terjadi dalam konteks pasar dan perdagangan. Tuhan Yesus mengajarkan satu jenis pertukaran hidup, tapi tidak sebagai sebuah perdagangan. Ia menghadirkan sebuah gaya hidup baru demi meraih keselamatan jiwa dan raga bagi umat manusia. Kepada mereka yang memilih untuk mengikuti-Nya, syarat utamanya ialah melakukan sebuah pertukaran hidup, yaitu perubahan pribadi dan semangat hidupnya.
Gaya dan semangat duniawi yang membuat kita mementingkan diri sendiri dan hidup serba gampang serta ingin selalu dilayani, ditukar dengan gaya hidup baru dari Yesus ialah penyangkalan diri. Tanda utamanya ialah memanggul salib. Ini melengkapi yang sudah dilakukan oleh Tuhan, yaitu membeli kita dari dunia ini dengan harga yang mahal sekali. Kita dijadikan milik-Nya dengan ditandai pembaptisan dan jadi bagian dalam Gereja. Kita mengalami suatu pertukaran hidup yang mencakup kepemilikan Tuhan atas diri kita dan gaya hidup dunia ini ditukar dengan gayanya Yesus Kristus yaitu penyangkalan diri.
Hal ini bukan berarti dunia, budaya dan hidup sosial tidak lagi sebagai bagian dari hidup kita, atau sebaliknya kita kehilangan status di dunia ini. Kita sebenarnya masih mengalami dan memiliki semua, tapi diri ini telah bertukar kualitasnya jadi lebih tinggi, yaitu sebagai para pengikut Kristus. Martabat ini sudah dimiliki dan kita merasakan berartinya diri ini. Buktinya kita berjanji untuk setia kepada Tuhan dalam kata dan perbuatan kita. Tapi hal ini tidak membuat kita selalu luput dari godaan dan dosa. Justru tantangan besar bagi putra dan putri Allah ialah mempertahankan martabatnya itu.
Nabi Nahum dalam pewartaannya mengatakan, bahwa Tuhan selalu ingin memulihkan hidup manusia yang telah rusak, karena dosa. Sebagai putra dan putri Allah, kita jadi istimewa, karena selalu dipulihkan oleh Tuhan yang Maha Baik.
“Ya, Bapa, kami ingin menguduskan diri kami melalui perkataan dan perbuatan, semoga hidup kami berkenan kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.