Memikul Salib

“Salib itu bukan tujuan akhir, melainkan jalan yang mendekatkan kita pada Yesus.”
Allah yang Maha Rahim,
Saat mendengar Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, lalu mengikuti Aku,” hati ini kadang gentar. Aku lebih suka jalan yang mudah, nyaman, dan aman. Tapi Engkau mengingatkanku, bahwa Pribadi yang memintaku memikul salib adalah Dia yang terlebih dahulu memanggul salib-Nya sendiri demi menyelamatkanku.
Sejak dahulu Engkau tidak pernah membawa umat-Mu kehilangan sesuatu tanpa menyediakan anugerah yang jauh lebih besar. Bangsa Israel meninggalkan Mesir untuk memperoleh kebebasan. Yesus menerima salib untuk membuka pintu kehidupan kekal. Demikian pula setiap penyangkalan diri yang Engkau minta dariku bukan untuk mengurangi hidupku, tapi justru untuk memenuhinya.
Mungkin salibku ini bukanlah penderitaan yang besar. Bisa jadi hanya memilih berdoa sebelum membuka media sosial, menahan diri agar tidak membalas dengan kata-kata yang menyakitkan, mendengarkan orang lain dengan sabar, mengampuni meski masih terluka, atau melayani tanpa mencari pujian. Di tangan-Mu, pengorbanan kecil itu jadi jalan untuk semakin menyerupai Kristus.
Ajarlah aku agar tidak menilai hidup dari harta, jabatan, atau pengakuan manusia. Dunia berkata, bahwa kebahagiaan datang, ketika aku memiliki semakin banyak. Tapi Yesus mengajarkan, bahwa hidup sejati justru ditemukan, ketika aku rela memberikan diriku dalam kasih. Saat salib terasa berat, arahkanlah pandanganku kepada Yesus yang selalu berjalan bersamaku.
Bapa, aku memilih mengikuti Putra-Mu dengan penuh kepercayaan. Apa pun yang kuserahkan ke dalam tangan-Mu tidak pernah sia-sia. Dalam kerahiman-Mu, tuntunlah aku menemukan hidup sejati yang hanya ada di dalam Kristus. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.