Membangun Relasi dengan Allah

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat 16: 26).
Sebagai manusia, kita sering memiliki keinginan untuk mengejar hal-hal yang dapat memuaskan, menyenangkan, dan membahagiakan diri. Misalnya, mengejar kepopuleran, kekayaan, dan kenikmatan hidup. Ambisi pribadi mendorong kita untuk dikenal dan dipuji oleh banyak orang. Karena itu, kita berusaha melakukan berbagai cara demi memperoleh yang diinginkan, bahkan tidak jarang dengan mengesampingkan Tuhan. Akibatnya, perhatian kita tidak lagi terarah untuk mencintai-Nya.
Injil mengingatkan kita sebagai umat beriman untuk tidak salah dalam mengejar cita-cita yang ingin digapai. Tapi yang perlu diwaspadai adalah, ketika semua itu justru menjauhkan relasi kita dengan Tuhan. Kekayaan dan kepopuleran dapat jadi penghalang, apabila kita menjadikannya sebagai tujuan utama hidup.
Selama hidup di dunia, Tuhan tidak melihat seberapa banyak harta yang kita miliki. Ia memandang hati kita dan bagaimana kita menjalin relasi dengan-Nya. Melalui Sabda-Nya, Tuhan mengajak kita untuk mengejar hal-hal yang mengantar pada keselamatan, sehingga hubungan kita dengan-Nya makin erat.
Marilah kita membangun relasi yang semakin dekat dengan Tuhan, dengan menempatkan Dia sebagai pusat hidup kita.
Fr. Frederick de Jesu, CSE
Jumat, 07 Agustus 2026
Nah 1: 15;2: 2;3: 1-3.6-7 MT Ul 32: 35-36.39.41; Mat 16: 24-28
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.