Hanyalah Sebabak Sandiwara

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup ini ibarat sebabak sandiwara”
“All the world’s a stage”
(William Shakespeare)
Sesungguhnya, Wiiliam Shakespeare tidak menyatakan, bahwa hidup ini hanya palsu dan sia-sia, tapi “hidup ini punya babakan, peranan, penonton, dan pasti tirainya akan turun pada saatnya.”
Inilah Ketujuh Babak Kehidupan versi William Shakespeare
- Babak Bayi: “Meronta dan muntah di pelukan pengasuh.” Kita turun ke bumi ini tanpa punya naskah. Kita hanya bisa menangis yang bermakna mohon perhatian.
- Babak Sekolah: “Dengan tas di punggung dan menggerutu ia berangkat ke sekolah.” Di sini ia terus dipaksa untuk belajar tentang seabrek rahasia hidup: Dia dipaksa untuk berdisiplin, padahal dia masih suka bermain.
- Babak Remaja: “Ada kekasih, sambil mendekap seperti tungku.” Ya, itulah cinta monyet, cinta pertama, lengkap dengan patah hati segala. Terasa seolah sudah berada di ujung dunia.
- Babak Prajurit: “Siap tempur, siap bersumpah, ada juga jenggot aneh, dan asyik mengejar reputasi.” Inilah babak ambisius, rela berkelahi demi mencari nama dan menaikkan harga diri.
- Babak Hakim: Perut buncit suara menggelegar, tapi juga diselingi dengan ajakan bijak.
- Babak Orangtua: Celana mulai longgar, suara terdengar rendah, tenaga habis terkuras, dan ia sudah tidak mengejar panggung, tapi keheningan.
- Babak Pikun: “Ia ternyata sudah kehabisan segalanya (tanpa gigi utuh, bola mata asli, dan tanpa romantika hidup).” Inilah babak yang paling akhir, karena akan kembali ke titik nol dan tirai panggung segera ditutup.
Didaktika Antropologi dan Filosofi dari Adegan Sandiwara ini!
a. Kita, aktor/aktris yang selalu lupa naskah.
b. Kostum di tubuh kita akan dilepaskan, tapi watak kita akan tetap melekat.
c. Ada sang sutradaranya.
Penutup
Bagaimana Kita harus Bermain? Ya, jadilah aktor/aktris yang setelah turun dari panggung, maka hidupnya lebih layak, karena ia sudah belajar berakting?
Ingatlah!
Sadiwara telah mengajarkan kita agar sanggup memainkan peranan dengan baik, karena adegan panggung ini hanya sekali dilakonkan.
Amanat Agung
“Janganlah takut salah dalam berdialog. Tapi, takutlah, jika sampai akhir hayat ini, Anda ternyata tidak pernah bersikap tulus dalam memainkan peran yang diberikan Tuhan kepadamu!”
Kediri, 7 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.