Refleksi Filosofis Antropologis:Sepasang Sepatu Tua

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Karena suatu hari nanti, semua orang pun akan jadi sepasang sepatu tua di pojok rumah Tuhan”
(Didaktika Hidup Beriman)
“Jika dunia berkisah tentang ‘sepasang telapak kaki’ di pasir pantai, atau ‘pedang bermata dua,’ atau pun ‘sepasang sepatu tua,’ maka di dalamnya pun dapat disimbolkan dengan: kefanaan hidup, tanggung jawab hidup, dan jejak-jejak kaki yang pernah hidup.”
Tentang Siapa dan Kapan
Bukankah hal itu menyimbolkan sebuah saksi bisu, bahwa di balik sepasang sepatu tua itu, ada sepasang kaki manusia yang pernah memakainya, entah itu ‘siapa’ dan ‘kapan’ (walau sepatu itu bisu, tapi dia sempat ingat semuanya).
1. Sudut Antropologis: Sepatu itu adalah Bukti Peradaban
Bukankah manusia purba itu justru hidup bertelanjang kaki? Sepatu baru hadir dan ada bersama timbulnya peradaban manusia modern. Kehadiran sepasang sepatu itu adalah tanda, bahwa manusia pernah menolak untuk menyerah pada rasa sakit (itulah sebuah peradaban dan harapan).
Ada Tiga Buah Cerita Sepasang Sepatu Tua!
a. Cerita tentang Tanah: lumpur, pasir dan bebatuan, serta lantai rumah.
b. Cerita tentang Beban: ya, tentang sepasang tumit letih yang telah aus sebelah. Hal itu mau menyimbolkan bahwa Anda pun sangat sering memikul beban berat (itulah sebuah tanggung jawab kehidupan).
c. Cerita tentang Waktu: Ibarat jahitan baju yang mulai lepas, warna sarung yang mulai memudar, sepatu tua itu pun tak bisa berbohong.
Secara Antropologis dikatakan, bahwa kala “melihat sepasang sepatu” maka kamu pun akan tahu, siapa si pemakainya. Hal itu bukan soal apa mereknya, tapi soal parah ausnya.
2. Sudut Filosofis: Sepatu Tua itu adalah Hubungan
Bukankah sepatu itu tak pernah berjalan sendiri? Ketahuilah ia pun selalu akan berpasangan, bukan? (kanan dan kiri, berbeda, tapi keduanya harus selalu beriringan, bukan?)
Hal itu pun Ibarat:
- Relasi Akal dan Hati: Kanan itu adalah logika, sebelah kiri itu rasa. Tapi keduanya pasti tetap sinkron, agar tidak pincang.
- Relasi Dunia dan Akhirat: Jika yang di sebelah kanan mencari sesuap nasi, maka yang di sebelah kiri pun akan merestuinya (jika yang satu pincang, maka hidup pun akan timpang).
- Relasi Aku dan Kamu: Sepasang suami istri, atau antar sahabat, juga antar guru murid (saling menopang, jika yang satu rusak, maka yang satu pun akan terbengkelai). Keduanya pun selalu harus seia dan sekata, seiring dan sejalan, ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun.
3. Pelajaran dari Sepatu yang Mau Dibuang
Di saat mata genit Anda menatap pada sepasang sepatu tua yang tergeletak di pojok nan sunyi, “Ah aku akan membuang kamu!” Tapi, sebelum itu, dia sempat berbisik tentang tiga (3) hal:
- Pertama: “Aku pernah ngantar kamu pulang saat hari hujan.” (Ya, itu sebuah memori, usang dan sampah, tapi itu pun jasa yang tak pernah sanggup dibayar).
- Kedua: “Lecet itu karena kamu selalu patuh, ke mana pun aku mau.” (Ya, itulah sebuah pengorbanan dan Anda tak pernah bertanya, kamu capek, ya?)
- Ketiga: “Sekarang giliranmu untuk berjalan sendiri, tanpa aku lagi.” (Itulah sebuah keikhlasan dan semuanya akan aus), tepat pada waktunya.
Penutup: Antropologi Cinta
Bahwa, manusia itu adalah satu-satunya makhluk yang pernah menyimpan sepatu yang tidak pas di kaki. Bukan karena pelit, melainkan karena sudah berbau keringat.
Sepasang sepatu tua itu adalah kau dan aku atau kita (semakin dipakai, maka akan kian aus dan kian banyak kisah).
Di suatu hari nanti, semuanya pun akan jadi sepasang sepatu tua yang tergeletak di pojok rumah Tuhan. Hal yang terpenting, pertama dan utama: “Saat sepatu itu dilepas, Anda telah mengantar sang pemiliknya hingga ke tujuan.”
Kediri, 6 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.