Mengetuk Pintu Kerahiman Ilahi

“Iman sejati tidak berhenti, ketika Tuhan tampak diam. Iman terus mengetuk sampai terbuka pintu kerahiman.“

Allah yang Maha Rahim, Engkau memperlihatkan kepadaku seorang Ibu yang tidak membiarkan keadaan menentukan harapannya. Ia bukan orang Israel. Ia dianggap orang luar. Tapi ia berani datang kepada Yesus sambil berseru, “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah aku.”

Ketika Yesus tampak diam, ia tidak pergi. Ketika situasi terasa makin sulit, ia tidak menyerah. Ia justru kian mendekat dan merendahkan diri, serta percaya, bahwa belas kasih-Mu lebih besar daripada segala batas yang dibuat manusia.

Bapa, sering kali aku mudah putus asa, ketika doa-doaku belum dijawab. Aku mengira Engkau tidak mendengar. Padahal mungkin Engkau sedang menumbuhkan iman yang lebih dalam, pengharapan yang lebih murni, dan hati yang makin melekat kepada-Mu.

Melalui Nabi Yeremia, Engkau berjanji mengumpulkan kembali umat-Mu yang tercerai-berai. Engkau adalah Allah yang memulihkan, membawa pulang mereka yang hilang, dan yang mengubah ratapan jadi sukacita. Tidak ada hati yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh kasih-Mu.

Ya, Allah singkirkan segala tembok yang kubangun terhadap belas kasih-Mu. Ajarlah aku untuk tidak membatasi siapa yang layak menerima kasih-Mu, termasuk diriku sendiri. Berilah aku kerendahan hati seperti perempuan Kanaan itu, ketekunan yang tidak mudah menyerah, dan keyakinan, bahwa satu sentuhan belas kasih Yesus sanggup mengubah segalanya.

Pada peringatan Pendedikasian Basilika Santa Maria Mayor, semoga aku makin percaya, bahwa melalui Kristus, keselamatan-Mu terbuka bagi semua orang yang datang kepada-Mu dengan iman.

Tuhan Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami. Teguhkan iman kami, kuatkan harapan, dan jadikan kami saluran belas kasih-Mu bagi siapa pun yang kami temui hari ini. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)