Tapak Kaki yang Ditinggalkan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jadi, untuk apa kita berjalan? Bukan untuk membuat tapak kita jadi abadi. Tapi demi empuknya pantai ini saat dipijaki orang lain, setelah kita.”
(Didaktika Hidup Sadar)

Pasir pantai itu memang terkesan aneh! Mengapa justru demikian? Ya, karena dia memang sangat ikhlas menerima siapa saja yang memijakinya.

Apakah Anda seorang Raja ataukah Ratu? Pemulung ataukah juga seorang Pembohong? Ketahuilah, bahwa tidak seorang pun yang ditolaknya. Penting diingat, tapi dia tidak sudi untuk menyimpan siapa pun. Mengapa justru demikian? Ya, karena semua jejak kaki itu akan lenyap, ketika dihapus oleh deburan ombak.

  1. Tapak kaki itu bukti: “Aku ini Pernah Ada.” Bukankah semua manusia turun ke bumi dengan penuh rasa takut yang sama? “Apa mereka takut tidak meninggalkan bekas.” (Mari kita berlari, rela kerja lembur, atau kita posting wajah dan turutan genit kita). “Lihat aku lho!” Tapi juga sering kali pada tapak ke seratus, kita ternyata sudah loyo.

“Ya, itulah eksistensi kita! Kita ini pernah ada; lalu kita pun akan pergi, dan bahkan pergi untuk selamanya.”

  1. Ombak itu waktu: “Guru yang Kejam, tapi Jujur.”

Mengapa pasir justru tidak mampu menahan tapak kaki kita untuk bertahan selamanya? Ya, jika semua tapak kaki itu disimpan, bukankah pantai itu pun dipenuhi dan akhirnya tak ada tempat yang tersisa bagi orang baru lagi?

Waktu pun begitu. Dia akan menghapus kita. Bukan karena ia membenci kita, melainkan justru agar kita pun terus mau berjalan.

Ada Tiga Jenis Manusia di Hadapan Ombak

  • Manusia yang panik: Dia akan sibuk menggali pasir lebih dalam, agar tapak kakinya tidak hilang. Hal itu berdampak ia capai, lalu ia akan tenggelam ke dalam lubang galiannya sendiri.
  • Manusia yang pemarah: Dia pun bahkan sempat memaki si ombak. “He, kenapa engkau tega menghapus aku?”
  • Manusia yang paham: Dia akan tersenyum dengan sangat lembut, berjalan perlahan demi menikmati tapak-tapak kakinya sendiri.
  1. Filosofi Terselubung: Kita ini bukan Pasir, Kita adalah Jalan

Tapak kaki kita akan hilang. Tapi ada dua hal yang tidak mampu dihapus oleh ombak:

  • Pasir yang telah Anda padatkan!
    Bahwa setiap kebaikan, kata yang Anda tuturkan, atau setiap sadar yang Anda simpan, itulah hal-hal yang mampu memadatkan pasir pantai. Dampaknya, bahwa orang yang lewat setelah Anda pun tak akan lenyap.
  • Orang yang berjalan di samping!

Selembar fotomu bisa terhapus. Sebuah menara pun bisa runtuh. Tapi, cara Anda membuat anak-anakmu bisa tertawa di saat mereka takut ombak, atau cara Anda mengulurkan tangan kepada teman yang jatuh, itu semua tak akan sanggup disapu oleh ombak.

Bagaikan Sang Nabi yang pernah melintasi padang pasir dan gurun tandus, namun isi pengajarannya itu justru jadi bagaikan jalan tol bagi miliaran umat manusia.

Penutup: Jadi, untuk apa kita berjalan? Bukan agar tapak kaki kita jadi abadi. Tapi, agar pasir pantai ini jadi lebih empuk dipijaki oleh orang-orang setelah Anda.

Eksistensi Kemanusiaan itu bukan soal ‘dikenang’, tapi itu soal untuk “dijadikan pijakan.”

Maka, janganlah Anda takut, kala tapakmu itu hilang. Tapi justru takutlah, bila Anda sudah berjalan seumur hidup, tapi tidak seorang pun yang kakinya lebih ringan, karena Anda pernah melewatinya.

“Ya, kita semua cuma numpang di pasir. Tapi beruntunglah, jika ada anak kecil di suatu hari menunjuk ke laut dan berkata, “Dulu, ada orang bijak yang melintasi tempat ini. Ombak saja yang mampu menghapus tapaknya, bukan kebaikannya.”

Kediri, 4 Agustus 2026