Melepas Tanpa Kehilangan

“Banyak orang merasa mengerti, tapi tidak mau melakukannya. Yang memahami dan melakukan dengan hati, rezekinya dilipatkangandakan Tuhan.” -Mas Redjo

Terpujilah Tuhan! Karena saya percaya dan mengimani-Nya. Bagi saya, peristiwa di dunia ini tidak ada yang terjadi secara ‘ndilalah’ atau kebetulan, tapi itu ketetapan-Nya. Tujuannya agar saya belajar hidup berhikmat untuk jadi baik, dan terus makin membaik.

Tidak sekali dua hal itu terjadi, tapi berulang terus menerus, ketika saya mudah bersyukur untuk memahami kehendak-Nya, baik dalam suka dan duka maupun manis pahitnya kehidupan ini.

Resepnya adalah, jangan berpikir negatif dan buruk di balik peristiwa pahit getir ini. Karena yang negatif dan buruk itu besumber dari yang jahat. Tapi untuk dijalani dengan ikhlas hati.

Jangan pernah beranggapan pula, kita sedang diuji imannya. Karena ujian itu datang dari pikiran sendiri. Tapi iman kita sedang ditempa agar jadi pribadi yang sabar, tangguh, dan dewasa.

Orientasi saya, “Selalu mendasari suatu pekerjaan dengan hati dan ikhlas agar hidup ini serasa ringan dan tiada beban.” Rasa bersyukur membuat saya berani ke luar dari kenyamanan palsu agar saya tidak malas. Tapi untuk mengeksplorasi diri untuk makin rajin bekerja guna memberi kemampuan yang terbaik.

Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan orang lain kepada saya tidak boleh disia-siakan. Sehingga mereka yang mempercayai dan mempekerjakan saya tidak kecewa, menyesal, dan kapok. Sebaliknya dengan berkerja rajin, tekun, dan memberi yang terbaik itu membuka pintu anugerah Tuhan. Rezeki saya dilipatgandakan-Nya.

Begitu pula, saat saya menghadapi ekonomi usaha yang lesu, masalah keluarga, dan badai persoalan yang lain. Caranya adalah membiasakan bersikap tenang, berpikir jernih, dan berefleksi diri.

Bagai saya, timbulnya konflik atau badai kehidupan itu sejatinya Tuhan sedang mendidik, menegur, dan mengingatkan saya agar rendah hati.

Tidak ada gunanya menyalahkan dan menghakimi orang lain, lebih bijak kita tetap “eling lan waspada.” Karena kriteria yang kita gunakan untuk menghakimi orang lain itu akan jadi standar yang sama untuk mengukur diri kita sendiri (Mat 7: 2).

Dengan hidup ikhlas hati, saya berdamai dengan diri sendiri agar tidak terpenjara oleh masa lalu.

Dengan hidup untuk mengasihi sesama, saya memerdekakan jiwa ini untuk meneruskan belas kasih Tuhan. Melepas tanpa kehilangan, karena saya ini milik-Nya.

Mas Redjo