Menelisik Mosaik Kelana

Mosaik Serpihan Kelana -2
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores



Jemari pikiran menjahit kisah cerita
dari tanya asali yang tak bertepi
Jejak nalar merajut kembara damba
dari darah daging, debu tanah, samudra dan angkasa
Kesadaran memungut serpihan ingatan
dan meraih puing nostalgia
Laluโ€ฆ
rindu damba dan imajinasi mimpi
berkreasi membuat sosok wajah
pada halaman ruang tanpa batas
Desah nafas dan desir darah realita
mencampur warna dalam energi angin
Coba memberi nama dan rupa pada mosaik pribadi
untuk bisa menjawab tanya asali
“Aku ini apa dan siapa?”


Kita adalah mosaik jagat raya
yang berkelana mengembara dalam tanya
Kita adalah serpihan kata Sang Maha Nama
yang terpenjara dalam gelora mantra kata-kata
Kita adalah lukisan puing tanya
dari percikan amanah Sang Maha Kata
dalam jutaan doa rindu damba
jiwa raga yang mencari jawaban makna
Entah sudah berapa banyak sosok wajah mosaik
yang bisa tercatat sejarah peradaban manusia
Selain jutaan yang punah sirna dalam nostalgia


Setiap pribadi terlahir sebagai serpihan mosaik
pada bentangan halaman jagat raya warna-warni
Kita datang sebagai puing mosaik
pada lembaran roda waktu abadi tak bertepi
Kita diwariskan tradisi adat budaya pendahulu
dengan ragam kisah suka duka
dengan berbagai cerita harapan dan cita-cita
Dalam penjara kata dan belenggu bahasa
kita terus dipaksa menjawab kebodohan
dengan sandiwara ketidaktahuan
yang seperti kebenaran sempurna untuk diyakini
Entah dalam ajaran tradisi adat budaya
Entah dalam warisan iman agama
Entah dalam ilmu dan teknologi


Kita berkelana membuat mosaik
dari butiran kisah cerita nafas
dari tetesan air jiwa raga
karena mengembara mencari jawaban tanya asali
Ada mosaik yang tak pernah selesai
karena dibatasi ruang dan waktu berlari
Ada yang mampu membuat satu mosaik diri
dengan sosok dan warna pribadi
Ada yang memiliki seratus topeng dan seribu wajah
karena mempunyai kreasi, kuasa dan harta
Mosaik adalah potret diri pribadi
untuk nyatakan ada dan menjadi
sebagai apa dan siapa
Di antara sesama saudara manusia
Di tengah alam jagat raya
Di hadapan Sang Hyang Tanpa Wajah
dengan seribu nama dan sejuta sosok misteri