Mati Demi Kebenaran

Di gerbang sebuah kota, ada patung terkenal yang bernama “Anak di Pundak Ibu” untuk memberi makna kota tersebut. Pada zaman dahulu kota itu dibela oleh seorang pemuda yang memimpin segenap masyarakat untuk melawan para musuh yang ingin menduduki kota. Meskipun kota ini berhasil dipertahankan, tapi pemuda ini mati terbunuh dalam perang. Ibunya sendiri yang menaruh putranya di pundak, memikulnya dan membawa ke tengah kota untuk dihormati oleh semua orang.
Bunda Maria melahirkan, membesarkan, sampai menyaksikan sendiri Putranya Yesus Kristus dihukum mati, lalu menidurkan jenasah Yesus di pangkuannya (la pieta dari Michaelangelo). Maria menyaksikan langsung Anak Domba Allah yang dikorbankan, karena mempertahankan kebenaran dari pihak-pihak yang anti kebenaran. Keponakan Maria, Yohanes Pembaptis, juga lebih dahulu rela untuk dibunuh oleh penguasa jahat demi menegakkan kebenaran. Menyusul Yesus dan Yohanes Pembaptis ialah banyak pria dan wanita sepanjang zaman telah rela mengorbankan nyawanya, karena mempertahankan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Para pahlawan adalah orang-orang yang mati demi kebenaran.
Pertanyaannya: apakah kebenaran itu harus dibayar dengan kematian? Jawaban paling pertama ialah, bahwa pihak yang melawan kebenaran yaitu orang-orang jahat berpotensi sangat kuat di dunia ini, yang tujuannya ialah menghilangkan kebenaran dan segala yang baik. Salah satu targetnya yang utama ialah, membinasakan orang-orang yang berjuang dalam kebenaran, yang mempertahankan kebenaran dan yang menghidupi kebenaran.
Jawaban lain, jika memang tidak ada penentang berpotensi kuat, bahkan pihak yang melawan kebenaran itu sangat lemah, kebenaran itu harus dipertahankan di dunia ini. Ancaman penumpahan darah tidak relevan. Ancamannya lebih rohani, sebenarnya sebagai tantangan untuk menghidupi kebenaran itu, memberikan kesaksian dan membuat banyak orang lain hidup di dalam kebenaran juga. Di sini orang perlu mematikan kemalasan, kebosanan, masa bodoh, egois, lupa, dan kekurangan-kekurangan pribadi lainnya.
Kebenaran itu pada prinsipnya, ialah sesuai kenyataan atau fakta. Maka ia berlawanan dengan bukan nyata atau bukan fakta. Kebenaran juga sesuai aturan, norma, moral; maka berlawanan dengan pelanggaran aturan. Kebenaran itu ialah melakukan kehendak dan perintah Allah; maka berlawanan dengan kehendak bukan dari Tuhan.
Maril kita pertahankan kebenaran itu, bahkan sampai kita mati.
“Ya, Tuhan yang Maha Kuasa, semoga usaha-usaha kami untuk mempertahankan kebenaran dan memberikan kesaksian tentang segala hal yang baik kepada setiap orang di sekitar kami, dapat selalu berkenan kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.