Jalan Tanpa Nama
Mosaik Serpihan Kelana -1
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Aku terlempar di jalan ini
Mungkin juga kau, dia dan mereka
Entah…
di mana dan apa nama tempatnya
karena tak pernah seorang pun meminta
dan memang terjadi begitu saja
Berjalan dengan tanya getir
melangkah dalam kelana galau
Entah sebagai apa dan siapa
Entah dari mana dan akan ke mana?
Aku ada dan terus menjadi
bernafas dalam ketidaktahuan
Darahku mengalir dalam kebodohan
Lalu…
perlahan terpaksa merekam kata dan bahasa
terus terbelenggu dibiasakan dalam adat budaya
Jiwa raga ditulis sesama saudara
alam semesta memberi aneka warna
Tetapi…
tak tahu sedang berjalan di mana
Waktu menuntun aku merangkak dalam tanya
mencoba berdiri dan mulai belajar melangkah
Jatuh bangun jadi irama tanya
dari bayi berubah jadi bocah bertumbuh
dari anak jadi remaja berlari
Mengejar damba cita yang penuh tanya kembara
Entah ke mana dan di jalan apa
terus berkelana dalam jalan tanya
Ternyata…
memang aku berkelana di jalan tanpa nama
yang harus dilukis sendiri sebagai tanda makna
Dari remaja terus mengembara ke dewasa
Jutaan nama jalan sesuai kata bahasa yang dipilih
dan ratusan juta tempat diberi nama
agar bisa jadi jawaban tanya
Tetapi…
setiap pribadi harus memilih nama jalannya
Entah sebagai apa dan siapa
Entah ada jawabannya atau hanya tanya?
Ada fakta beberapa nama untuk satu pribadi
Ada juga bisa berubah-ubah nama jalan
Tetapi…
ada tanya yang tak pernah sirna
Mengapa nama harus dengan kata bahasa
Dan apakah jalan kelana jiwa raga mesti ada namanya
“Dari mana dan akan ke mana?”
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.